Saturday, April 27, 2019

Pengantar Malam Minggu

Aku ingin mengantarkan malam ini
Bukan dengan tanganku
Bukan dengan uangku
Aku antar malam ini dengan pikiranku

Membayangkan gerak satu demi satu, detik demi detik, jam demi jam
Perlahan menjelajahi waktu yang tidak tergambar
Juga ruang yang tak terjarak
Seakan menerka segala yang ada di dalamnya

Malam ini adalah ilusi
Berwarna kelabu, mewakili ketertabrakan asa-asa tercampur
Hinggar memang ada, suram pun hadir
Terpusat seperti pusaran angin yang menghisap segalanya

Malam ini malam minggu
Aku ucapkan doa bersambut kepadamu
Anugrah atas kebahagian yang sempurna
Neraka bagi harapan tak tercapai

Malam ini malam minggu
Dan ini pengantar untukmu

---
arostokrat
Read More

Jakarta dalam 3 Bulan

Tidak terasa jika aku telah menghabiskan masa hidupku selama 3 bulan di Jakarta. Tentu bukan untuk bermain-main atau berkreasi, namun mengadu nasib.

Tuhan ternyata menuntunku ke Jakarta, pusat berkumpulnya kuasa dan harta.

Memang aku selalu membayangkan untuk berkarir di Jakarta. Kupikir Ibu Kota adalah tempat pas untuk menempaku menjadi pribadi yang kuat dan tangguh sebagaimana pelaut yang terlatih menghadapi badai besar. Namun aku tidak berpikir bahwa jalanku untuk ke Jakarta melalui bidang yang tidak benar-benar aku geluti, yakni isu lingkungan.

Ketika kuliah aku aktif dalam organisasi kampus, juga terlibat dalam diskusi-diskusi akademik yang diselenggarakan HIMA atau Kampus. Berbagai bidang aku geluti, katakanlah Hak Asasi Manusia, Politik, Gender, Hubungan Sipil-Militer, Budaya, Antropologi, dan Sosiologis. Di luar bidang itu aku anggap tidak menarik dan lingkungan adalah salah satunya.

Pada saat itu aku memiliki perspepsi  bahwa lingkungan erat dengan aspek teknis, makanya aku tidak terlalu tertarik karena ingin menghindari berbagai rumus matematika. Selain itu banyak sekali bahasa-bahasa teknis lainnya yang aku tidak ketahui. Singkatnya aku tidak mendalami isu lingkungan, hanya sebatas tahu dari teman-temanku yang bergiat di sana.

Mungkin benar kata pepatah dahulu, "kita tidak terlalu membenci atau menyukai suatu hal, karena bisa jadi keduanya itu berbeda tipis" dan ketidaktertarikan aku terhadap isu lingkungan mendekatkan aku dengannya. Ntah bagaimana cerita rumitnya, Tuhan mendekatkan aku dengannya.

Pada bulan pertama aku masih merasa memiliki energi tak terbatas. Ini bukan karena bintangku Aries, namun juga ada antusias yang berlipat ganda dalam jiwa ini. Aku akan mendalami bidang yang relatif baru, itu yang selalu bergaung dalam pikiranku.

Selama bulan pertama, aku menikmati hal-hal yang baru. Lingkungan baru. Teman kerja baru. Tanggung jawab baru. Semua kuanggap sebagai titik awal lembaran perjalanan baruku. Pada bulan pertama ini juga aku beradaptasi dengan lingkungan baru, termasukan tempat tinggal beserta makanan yang ada di sekitarnya.

Pada bulan kedua, aku sudah bisa beradaptasi dengan kotanya. Mengetahui dimana aku harus menjelajah meskipun masih juga ada labirin-labirin kota yang belum ku terjamah. Memahami kulturnya. Mengetahui pola aktivitasnya. Juga mampu mengembangkan hubungan dengan orang-orang di dalamnya. Yah, Jakarta adalah Aku dan Aku adalah Jakarta.

Pada bulan ketiga, aku bisa mengatakan bulan maduku telah berakhir. Tantangan demi tantangan muncul. Masalah demi masalah hadir ntah urusan profesional atau personal, dengan tingkat kerumitan yang berbeda satu sama lain. Aku harus akui tidak selamanya aku bisa menangani tadi dengan baik. Ada yang hasilnya fatal. Aku selalu membayangkan mampu memutarbalikan waktu, kembali ke masa itu. Namun, nasi sudah menjadi bubur dan hal terbaik menyikapinya adalah menerima semua itu sesuai apa adanya serta mau belajar darinya. Sehingga aku mampu pribadi matang dan bijak.

Yah, bulan ketiga ini seperti 10 menit pertama film laga dimana jagoan dihadapkan pada kerumitan dan hanya dua pilihan dalam konteks ini Go Home or Go Great.

---
arostorat

Read More

Friday, April 12, 2019

Ikhwal Pengetahuan HI

Ada dosen senior yang mengatakan "Hi itu tidak aplikatif. generalis. lantas jika generalis apa perbedaan kita dengan pengetahuan umum ?".

Ungkapan di atas selalu dikhotbahkan oleh beliau dalam setiap perkuliahannya. Implikasinya tidak sedikit mahasiswa/lulus HI yang rendah diri karena merasa pengetahuannya tidak memiliki manfaat praktis/teknis.

Aku kira pemahaman dosen tadi keliru.

Berdasarkan pengalaman ku. Hubungan Internasional itu aplikatif, masalahnya adalah kesempatan untuk menerapkan pengetahuannya sangat terbatas.

Tidak semua lulusan HI menjadi diplomat. Tidak semua lulusan HI kerja di organisasi internasional dan tidak semua lulusan HI menempati profesi ideal yang sudah ditetapkan.

Kemudian, hal lain yang menjadi perhatian adalah "apakah dosen tadi mau melihat realita ?" yang dalam hal ini adalah kondisi lapangan tentang distribusi pekerjaan lulusan HI. Aku lupa pastinya, namun yang pasti persentase diplomat itu berada di bawah 30-50%, sisanya adalah kerja di sektor privat atau lembaga pemerintahan yang tidak memiliki fungsi diplomatik. Trend seperti itu cenderung stabil dari tahun ke tahun.

Solusinya sederhana jika dosen senior tadi ingin pengetahuan HI sangat aplikatif.

Jawabannya adalah mengatur kembali body of knowledge HI.

Tidak hanya memasukan mata kuliah yang dinilai representasi profesi non-diplomat, namun mata kuliah yang ada harus disusun secara berjenjang untuk mengharahkan dan mengakomodir mahasiswa HI yang memang tidak tertarik menjadi diplomat.

Sehingga porsi bobot state-centric dalam body of knowledge HI perlu ditempatkan secara proporsional dan tidak mendominasi.

Maka dengan usulan kasar yang sudah dipaparkan di atas, tidak akan ada lagi ungkapan "Pengetahuan HI tidak aplikatif".

*satu hal penting yang hampir saya lupa untuk disampaikan, pengunaan istilah HI merujuk kepada almamater saya.


---
arostokrat
Read More

Thursday, April 11, 2019

Pelaut

Aku selalu memimpikan untuk bekerja di Jakarta.

Aku tidak tahu pasti kenapa menginginkan itu, tapi hati kecil ku selalu berkata "kita harus ke Jakarta".

Ini cukup unik mengingat aku lahir dan besar di Bandung. Tanah Parahyangan - "Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum" (Brouwer).

Tidak sedikit orang yang menginginkan lahir, belajar, kerja, dan tinggal di kota Bandung. Tapi itu tidak berlaku bagi aku.

Bagiku Bandung terlalu kecil, dalam satu haripun engkau bisa menjelajahi semua pelosok Bandung. Aku bukannya tidak bersyukur, namun aku merasakan adanya yang kurang di Paris Van Java itu.

Rasa haus akan kekurangan tadi mulai menemukan oase ketika memasuki bangku kuliah. Aku bertemu dengan teman-teman penjuru nusantara. Mereka tidak suku denganku. Mereka beragam.

Yah. Aku menemukan jawabannya. Aku ingin berpetulang. Keliling dunia.

Selain itu pengetahuan yang peroleh dari bangku kuliah agak susah untuk diamalkan di Bandung. 

Jakarta adalah pintunya dan dunia adalah arenanya. 

Yah, aku ingin menjelajahi dunia. 

Pikiran itu selalu terbayang dalam benakku. 

Menempati tempat asing. Bertemu dengan orang baru. Dan membentuk karakter diri yang telah telah lama terpatri.

Bandung memang adem, tenang, damai. Namun tidak ada pelaut handal yang tinggal di air dangkal dan tenang. Dia perlu badai. Dia perlu tantangan. Dia perlu pengalaman.

Dan Kawah Candradimuka-nya adalah Jakarta.

Di sini aku lebih mengenai diri. Mematangkan diri untuk berpikir atau bertindak. 

Aku rasakan jiwa ini berkembang ketika jauh dari rumah. Jauh dari kenyaman. Jauh dari ketenangan. Jauh dari kepastian. Seperti tanah liat yang dibentuk menjadi guci cantik.

Memang tidak selamanya manis. Kadang asam. Kadang pahit. Kadang tak berasa.

Tapi itulah kehidupan. Didalamnya tidak akan pernah sama, selalu berbeda dan disini aku merasakan perbedaannya. 

Selalu menyiapkan diri dalam menghadap badai yang akan datang atau tiba-tiba datang. Karena aku adalah pelaut kehidupan.

---
arostokrat




Read More