Friday, April 12, 2019

Ikhwal Pengetahuan HI

Ada dosen senior yang mengatakan "Hi itu tidak aplikatif. generalis. lantas jika generalis apa perbedaan kita dengan pengetahuan umum ?".

Ungkapan di atas selalu dikhotbahkan oleh beliau dalam setiap perkuliahannya. Implikasinya tidak sedikit mahasiswa/lulus HI yang rendah diri karena merasa pengetahuannya tidak memiliki manfaat praktis/teknis.

Aku kira pemahaman dosen tadi keliru.

Berdasarkan pengalaman ku. Hubungan Internasional itu aplikatif, masalahnya adalah kesempatan untuk menerapkan pengetahuannya sangat terbatas.

Tidak semua lulusan HI menjadi diplomat. Tidak semua lulusan HI kerja di organisasi internasional dan tidak semua lulusan HI menempati profesi ideal yang sudah ditetapkan.

Kemudian, hal lain yang menjadi perhatian adalah "apakah dosen tadi mau melihat realita ?" yang dalam hal ini adalah kondisi lapangan tentang distribusi pekerjaan lulusan HI. Aku lupa pastinya, namun yang pasti persentase diplomat itu berada di bawah 30-50%, sisanya adalah kerja di sektor privat atau lembaga pemerintahan yang tidak memiliki fungsi diplomatik. Trend seperti itu cenderung stabil dari tahun ke tahun.

Solusinya sederhana jika dosen senior tadi ingin pengetahuan HI sangat aplikatif.

Jawabannya adalah mengatur kembali body of knowledge HI.

Tidak hanya memasukan mata kuliah yang dinilai representasi profesi non-diplomat, namun mata kuliah yang ada harus disusun secara berjenjang untuk mengharahkan dan mengakomodir mahasiswa HI yang memang tidak tertarik menjadi diplomat.

Sehingga porsi bobot state-centric dalam body of knowledge HI perlu ditempatkan secara proporsional dan tidak mendominasi.

Maka dengan usulan kasar yang sudah dipaparkan di atas, tidak akan ada lagi ungkapan "Pengetahuan HI tidak aplikatif".

*satu hal penting yang hampir saya lupa untuk disampaikan, pengunaan istilah HI merujuk kepada almamater saya.

(ars)
Read More

Thursday, April 11, 2019

Pelaut

Aku selalu memimpikan untuk bekerja di Jakarta. 

Aku tidak tahu pasti kenapa menginginkan itu, tapi hati kecil ku selalu berkata "kita harus ke Jakarta".

Ini cukup unik mengingat aku lahir dan besar di Bandung. Tanah Parahyangan - "Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum" (Brouwer).

Tidak sedikit orang yang menginginkan lahir, belajar, kerja, dan tinggal di kota Bandung. Tapi itu tidak berlaku bagi aku.

Bagiku Bandung terlalu kecil, dalam satu haripun engkau bisa menjelajahi semua pelosok Bandung. Aku bukannya tidak bersyukur, namun aku merasakan adanya yang kurang di Paris Van Java itu.

Rasa haus akan kekurangan tadi mulai menemukan oase ketika memasuki bangku kuliah. Aku bertemu dengan teman-teman penjuru nusantara. Mereka tidak suku denganku. Mereka beragam.

Yah. Aku menemukan jawabannya. Aku ingin berpetulang. Keliling dunia.

Selain itu pengetahuan yang peroleh dari bangku kuliah agak susah untuk diamalkan di Bandung. 

Jakarta adalah pintunya dan dunia adalah arenanya. 

Yah, aku ingin menjelajahi dunia. 

Pikiran itu selalu terbayang dalam benakku. 

Menempati tempat asing. Bertemu dengan orang baru. Dan membentuk karakter diri yang telah telah lama terpatri.

Bandung memang adem, tenang, damai. Namun tidak ada pelaut handal yang tinggal di air dangkal dan tenang. Dia perlu badai. Dia perlu tantangan. Dia perlu pengalaman.

Dan Kawah Candradimuka-nya adalah Jakarta.

Di sini aku lebih mengenai diri. Mematangkan diri untuk berpikir atau bertindak. 

Aku rasakan jiwa ini berkembang ketika jauh dari rumah. Jauh dari kenyaman. Jauh dari ketenangan. Jauh dari kepastian. Seperti tanah liat yang dibentuk menjadi guci cantik.

Memang tidak selamanya manis. Kadang asam. Kadang pahit. Kadang tak berasa.

Tapi itulah kehidupan. Didalamnya tidak akan pernah sama, selalu berbeda dan disini aku merasakan perbedaannya. 

Selalu menyiapkan diri dalam menghadap badai yang akan datang atau tiba-tiba datang. Karena aku adalah pelaut kehidupan.





 

Read More

Obrolan Sekilas Tentang Pernikahan

Ada pelajaran penting yang aku peroleh hari ini, yakni tentang pernikahan atau lebih tepatnya pokok utama ketika akan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Itu aku peroleh dari atasanku.

Pada cerita kali ini, beliau tidak langsung menujukan pokok pikirannya kepadaku. Namun pada rekan kerjaku, sebut saja Kiki yang secara kebetulan duduk kami berselahan. Jadi mau tak mau aku pasti mendengar pembicaraan apapun di sekitar kami.

Titik mula berawal dari obrolan rekan-rekan kerja yang membahas lokasi strategis untuk dijadikan tempat tinggal jika mencari kerja di Jakarta. Opsinya sebenarnnya bisa beragam - idealnya memiliki rumah di Jakarta, namun karena harga properti semakin meningkat dan anggaran menjadi pertimbangan maka Kiki pun berencana membeli rumah disekitaran wilayah penyangga Jakarta. Belum ditentukan dimana tempatnya. Masih sebatas rencana.

Pada saat obrolan tadi. Atasanku lewat dan mendengar obrolan kami.

Lalu beliau ngobrol bersama Kiki.

Hal yang beliau sampaikan kepada Kiki adalah "cari dulu pasangannya baru rumahnya". Lebih lanjut beliau mengatakan "nanti rumahnya bisa dicicil secara bersama". Kurang lebih seperti, aku lupa lagi detailnya bagaimana.

Perihal pernikahan, diusahakan kita berpikir sederhana. Hal penting adalah ada calon mempelainya. Tidak perlu mengunggu kita mapan terlebih dahulu, karena yang kurang bisa dicukupkan, yang lebih pun bisa dicukupkan.

Beliau mewanti-wanti perihal pasangan - "utamanya adalah Ibu yang terbaik bagi anakmu". Itu saja.

Beliau tahu aku mendengar seksama. Karena aku adai di sebelah Kiki dan utamanya Aku termasuk lajang di lingkungan kerja itu.

Aku pribadi bisa memahami pemikiran beliau.

30 tahun bukanlah waktu sedikit untuk memahami kehidupan. Namun cukup untuk menjadi bijak.

Setidaknya dari pengamatanku.

Tidak sedikit kondisi romansa zaman modern ini cukup berbelit.

Kukira apa yang disampaikan oleh beliau benar. Sejatinya kita harus berpikir sederhana dan bertindak sederhana. Jika sudah niat menikah dan ada calonnya maka menikahlah. Tak perlu dibuat rumit. Tak perlu menunggu harus ini - ini.

Aku jadi teringat Pramoedya "Hidup itu sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirnya".




Read More

Syukur

Tuhan

Aku ingin bersyukur kepada-Mu hari ini.

Atas nikmat yang Kau berikan dan berkah yang Kau persembahkan.

Di sini aku memahami, betapa mahalnya udara bersih. Namun, engkau tempatkan aku di lingkungan yang memiliki hutan kota dengan segala keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Di sini aku merasa kekurangan. Namun engkau cukupkan semua. Ku masih bisa membeli kebutuhan, ku juga masih bisa berbagi dengan sesama.

Di sini kadang aku merasa kesepian. Namun engkau berikan aku keluarga, dekatkan aku dengan teman lama, dan pertemukan aku dengan belahan jiwa yang lain.

Semua tidak dapat terjadi tanpa Kehendak-Mu - Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang dan Maha Pemilik Segala.

Semoga ini menjadi pemantik untuk meningkatkan ibadahku kepada-Mu.

Amen
Read More