Saturday, May 15, 2021

Mimpi Malam

Sejenak kita dengar suara kematian, satu, dua, tiga hingga jumlah tak terbayang bertemu dengan yang tersayang.

Engkau bertanya kepada "dimana kita ?". Aku jawab "gurun". Matamu tersibak, mencerna kenyataan, mengangkal khayal.

Engkau terdiam. Menangis. Mengecup nafas yang masih terjamah. Mengelus bayang yang sirna.

Kau pun tarik lagi selimut itu dan kembali tidur dalam batas tabir.

---
arostokrat
Read More

Thursday, April 11, 2019

Obrolan Sekilas Tentang Pernikahan

Ada pelajaran penting yang aku peroleh hari ini, yakni tentang pernikahan atau lebih tepatnya pokok utama ketika akan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Itu aku peroleh dari atasanku.

Pada cerita kali ini, beliau tidak langsung menujukan pokok pikirannya kepadaku. Namun pada rekan kerjaku, sebut saja Kiki yang secara kebetulan duduk kami berselahan. Jadi mau tak mau aku pasti mendengar pembicaraan apapun di sekitar kami.

Titik mula berawal dari obrolan rekan-rekan kerja yang membahas lokasi strategis untuk dijadikan tempat tinggal jika mencari kerja di Jakarta. Opsinya sebenarnnya bisa beragam - idealnya memiliki rumah di Jakarta, namun karena harga properti semakin meningkat dan anggaran menjadi pertimbangan maka Kiki pun berencana membeli rumah disekitaran wilayah penyangga Jakarta. Belum ditentukan dimana tempatnya. Masih sebatas rencana.

Pada saat obrolan tadi. Atasanku lewat dan mendengar obrolan kami.

Lalu beliau ngobrol bersama Kiki.

Hal yang beliau sampaikan kepada Kiki adalah "cari dulu pasangannya baru rumahnya". Lebih lanjut beliau mengatakan "nanti rumahnya bisa dicicil secara bersama". Kurang lebih seperti, aku lupa lagi detailnya bagaimana.

Perihal pernikahan, diusahakan kita berpikir sederhana. Hal penting adalah ada calon mempelainya. Tidak perlu mengunggu kita mapan terlebih dahulu, karena yang kurang bisa dicukupkan, yang lebih pun bisa dicukupkan.

Beliau mewanti-wanti perihal pasangan - "utamanya adalah Ibu yang terbaik bagi anakmu". Itu saja.

Beliau tahu aku mendengar seksama. Karena aku adai di sebelah Kiki dan utamanya Aku termasuk lajang di lingkungan kerja itu.

Aku pribadi bisa memahami pemikiran beliau.

30 tahun bukanlah waktu sedikit untuk memahami kehidupan. Namun cukup untuk menjadi bijak.

Setidaknya dari pengamatanku.

Tidak sedikit kondisi romansa zaman modern ini cukup berbelit.

Kukira apa yang disampaikan oleh beliau benar. Sejatinya kita harus berpikir sederhana dan bertindak sederhana. Jika sudah niat menikah dan ada calonnya maka menikahlah. Tak perlu dibuat rumit. Tak perlu menunggu harus ini - ini.

Aku jadi teringat Pramoedya "Hidup itu sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirnya".


---
arostokrat

Read More

Monday, November 26, 2018

(Sedikit) Cerita Lari

Tidak pernah sedikit pun aku membayangkan untuk menekuni hobi lari. Anggapan tersebut punya dasar pengalamannya sendiri.

---

Sedikit kilas balik ke masa kecil.

Di bangku SD, aku membenci olahraga lari. 

Alasannya sederhana, aku selalu kalah berlari dengan teman saya. Selain itu, cibiran dari teman, orang tua, dan saudara yang tidak jarang mengatakan, “ah lemah” semakin menguatkan ketidaksukaan saya dengan aktivitas berlari. Hal tersebut menyebabkan olahraga lari sebagai aktivitas yang selalu saya hindari.

Jika pun berandai-andai, aku lebih suka membayangkan menjadi pemain bulu tangkis. Di bangku SMP saya sempat mengikuti ekstrakulikuler bulu tangkis dan mengikuti pelatihan di Gor Sangkuriang – tempat Taufik Hidayat dulu berlatih. Sayang, kesuksaan terhadap bulu tangkis tidak lama. 

Memasuki SMA aku pasif dalam beraktivitas fisik. Sedikit berubah di bangku kuliah yang masih ditambal dengan kegiatan futsal angkatan. Tapi tetap, aku belum menyukai olahraga lari.

Ketertarikanku terhadap olahraga lari di mulai pada tahun 2016an. Pada saat itu mulai booming event di lari di kota kembang tercinta. Dalam pikiran, “seperti asik nih jika lari bareng2”, “lagipula medali yang disediain panitianya juga bagus. jadi ingin”.  

Lalu, ikutlah saya dalam salah even lari masa tersebut.

---

Event pertama yang saya ikuti diselenggarakan oleh PT KAI Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2016. Di acara itu saya bertemu dengan Fajar (teman SMP) dan Seny (teman kuliah) yang ternyata hobi lari juga. Jaraknya yang harus di tempuh tidak terlalu jauh sebenarnnya – cuman 5K. Namun karena kondisi tubuh saya pada saat itu belum sebugar sekarang, jarak 5K rasanya seperti neraka, tapi saya tetap bisa menyelesaikan perlombaan (finish). Sayangnya, medali finisher yang sediakan panitia hanya 100 buah dan tentu saya tidak masuk di dalamnya.

Setelah itu, saya pun belang-betong (bolong-bolong/tidak konsisten) mengikuti event lari.  Jarak 5K masih terasa berat.

Kemudian di awal tahun 2018, ketemulah dengan Pradip yang baru menyelesaikan working holiday dari Australia. Kita pun berbincang dan ditemukanlah permasaan bahwa kita sama-sama menyukai olahraga lari. Kemudian kita pun saling berbagi pandangan dan pengalaman. Perbedaannya, Pradip konsisten dalam berlari sedangkan saya cuman per event saja.

Saya pun menceritakan rencana saya mengikuti Pocari Sweat Bandung Marathon 2018 dengan jarak 10K dan Borobudur Marathon 2018 dengan jarak 21K (HM). Lalu diajaklah saya gabung dengan komunitas RIOT (Running is Our Theraphy) Chapter Bandung.

Ada beberapa pertimbangan kenapa saya memutuskan untuk bergabung dengan komunitas lari. Pertama, sebagai support system – ini menjadi penting karena fluktuasi motivasi berlari berada di tingkat inkonsistensi yang tinggi. Kedua terkait hal pengalaman, aku menyadari bahwa diriku adalah pelari semula dan memerlukan ilmu yang benar dari mereka yang sudah mengetahui serta melakukannya.

Pertama kali saya bergabung dengan RIOT Bandung sekitar 1 bulan sebelum PSBM. Saya mendapatkan penerimaan yang hangat dari teman-teman RIOT Bandung. 

Di Bandung sendiri pada dasarnya memiliki tiga agenda  per minggunya; hari rabu (kemudian diubah menjadi hari selasa) jadwal Strenght and Conditioning, hari kamis fun/night run, sedangkan hari sabtu atau minggu long run

Awal-awalnya terasa berat, apalagi waktu mengikuti program strength and conditioning yang dipimpin oleh coach Doni di Gor Padjadjaran. Di luar itu semua, saya percaya bahwa tidak ada latihan yang ringan dan berpikir “lebih baik habis di latihan, daripada payah di perlombaan”. Manfaatnya, tubuh saya menjadi lebih bugar dan sehat.

Di RIOT Bandung, bukan saja kebugaraan yang saya dapat namun juga pertemenan sehat. Meskipun komunitas lari, RIOT Bandung mengajarkan arti peduli, kerjasama tim, dan perjuangan.

Mind set pun berubah terhadap olahraga lari. Dulu berpikir pesimis ketika akan menghadapi jarak 10K atau 21K. “Gila, ada yh orang mau lari dengan jarak sejauh itu”, pikir saat itu. Ketika sudah dijalani, 10K atau 21K adalah jarak yang mungkin ditaklukan oleh manusia. Memang perlu persiapan yang matang juga untuk menjalani itu. Tidak cukup modal nekat dan tekad.

RIOT Bandung Team For Borthon 2018


Di komunitas RIOT Bandung juga saya menemukan kesalahan masyarakat dalam memandang olahraga lari. Mayoritas masyarakat kita berpersepsi bahwa lari itu harus cepat – itu adalah keliru. 

Lari memiliki beberapa variannya, seperti sprint atau distance-running. Nah, kebanyakan dari masyarakat cenderung mengasosiasikan dengan yang pertama (penggunaan 80-90% energi), padahal kenyataanya tidak seperti itu. 

Saya baru mengatahui bahwa lari itu harus membuat kita nyaman. Kita memiliki pace yang berbeda satu sama lain. Maka berlarilah dengan pace kita masing-masing. Jika ingin meningkatkan kemampuan maka berlatihlah.  

Intinya lari adalah tentang diri sendiri. Jangan bandingkan dengan orang lain, apalagi jika kamu pelari rekreasi.

Saya banyak berhutang terima kasih kepada teman2 RIOT Bandung, utamanya adalah Pradip (sebagai orang yang bertanggung jawab membawa saya ke RIOT), Capt. Kinno, Moms Melisa, Babang Rony, Aa Iki, dan para officers. Tanpa mereka dukungan moral mereka, saya tidak mungkin menekuni olahraga ini dan berusaha menembus batasan diri. 




Aros di Borthon 2018

Aros di Pocari Sweat Bandung Run 2019

(arostokrat)
Read More

Friday, June 8, 2018

Caffee

Dia duduk di kursi bar kopi shop itu sendiri. 

Terlihat jelas dari kejauhan sosoknya. 


Dia. Cantik. Memakai pashmina terang. Bertubuh proporsional. Terkesan rohis, namun tidak bisa menyembunyikan aura modis.


Bar itu tidak terlalu tinggi sebagaimana bar-bar yang ada. 


Lagi pula itu adalah bar untuk caffee. Bukan tempat hiburan malam. 


Kursinya mudah untuk dijangkau. Sekitar 80cm dari permukaan lantai hingga bantalannya. Bar-nya pun tidak terlalu menjulang terlalu tinggi. Jika ditaksir kira2 ada 120cm. Terkapar juga beberapa lembar menu makanan dan minum di atasnya. Tak lupa ada mug tip untuk pelayan yang bertuliskan "modal kawin".


Di bar itu terdapat dua kursi. Satu di isi oleh perempuan itu. Menyisakan sisanya sebagai wilayah tak bertuan. 


Ada hasrat yang mendorong diri ini berkenalannya dia. Si cantik jelita itu.


Suka ? ntahlah. Aku pun tak begitu yakin apakah aku memang suka. 


Toh dia baru hari itu aku temui. Bagaimana bisa aku bisa menyukai seseorang jika tidak tahu baik-buruknya.


Cinta ? apalagi itu. Dia adalah kata yang penafsirannya tak terhingga. Tidak bisa hanya dibingkai dalam hubungan antar dua jenis kelamin berbeda. Atau dibatasi dalam kisah romansa. Bahkan, hingga detik ini para filsuf, pujangga, dan khayalak masih memperdebatkannya. Dia pun tak bisa dilihat hanya sebagai aktivitas persenggamaan, meskipun itu adalah salah satu turunannya.


Ah. Mari kita melewati bagian tadi. Yang membosankan. Yang fokus akan diri dan pemikiran-pemikiran tak terarah. Lagi pula cinta terlalu absurd untuk dibicarakan.


Mungkin padanan yang tepat adalah tertarik. Aku tertarik pada dia. Seperti dua kutub yang saling berlawanan. Dia menarik atensiku. Dia menarik pandanganku. Dia menarik jiwaku. Mendorong diriku untuk selalu memandangnya.


Jelita. Bersinar. Cantik. Soleh. Cerdas. Itu adalah kesanku tetang dia. 


Tapi hanya cukup menikmati kesan saja ? 


Kesan bisa menjadi angan. 


Dia adalah fantasi liar awal tentang seseorang. Bisa jadi benar. Tak menutup kemungkinan untuk salah. 


Itu adalah lumrah. Sebagaimana khalayak yang keliru menafsirkan kesan tentang politisi dan selebriti. 


Mereka itu berkesan demikian karena tuntutan. Lingkungan dan panggung mereka mengharuskan begitu. 


Semua tindakan mereka adalah bentuk setia atau terpaksa terhadap peran sosial. Bisa juga diri yang hadir dalam tubuh mereka menjadi peran dan menjadi inti. begitu juga dapat terjadi sebaliknya - vice versa.


Lantas bagaimana aku harus bersikap terhadap perempuan yang duduk di kursi bar itu. 


Haruskah kuamini kesannya ? Jika ia. Maka aku tidak berlaku adil. 


Lah ? Adil untuk siapa ? 


Untukku ? 


Atau penilaian kesannya dariku ? 


Aduh. Kok jadi rumet. Kenapa pula aku harus memikirkan itu semua ? 


lagi pula adil itu seperti ? 


Banyak yg berbicara tentang adil tapi tidak sedikit yang tidak tahu barang itu. 


Memangnya aku tahu ? 


Aku harus jujur. Setahuku barang itu hanya muncul di pengadilan dan hakim membuat keputusan. 


Di persidang itu hakim membuka perkara dan berusaha menjelaskan posisi jelas dari perkara tersebut. 


Lalu, jika dirasa sudah terang benderang dia memberi penghakiman. 


Ok. Mari balik lagi ke masalah yg kupikirkan dari tadi. 


Bisakah aku adil kepada dia ? yah. dia. 


Perempuan yang berperkara dalam pikiranku. 


Mengusik ketenangan batinku. 


Menggiring jiwaku kepada dirinya dengan daya tarik yang dia miliki. 


Kuyakin dia tak bermaksud untuk berbuat demikian. 


Tapi bisa juga aku salah, ada peluang dia berbuat demikian dalam pikiran atau dalam rasa malu yang dia sembunyikan.


Jujur. Boleh aku jujur ? Tentu boleh. harus malah. Apalagi jika jujur terhadap diri sendiri. Wajib hukumnya. Klo untuk orang lain mungkin bisa sedikit walau berdosa. 


Ia. Itu dusta. Walau sedikit tetap saja berdosa. Ah. Sudahlah. Jujur saja.


Klo memungkinkan aku ingin melewati luapan pikiran-pikiran di atas. Langsung pada kesimpulan. 


Lah ? Apa yang disimpulkan ? Mungkin hrsnya pada suatu tindakan. Tapi apa daya. Pikiranku ini memang liar. Tak terkekang oleh keterbatasan rangkaian Aksara. Dia terus berspekulasi kemana-kemari. Mencari jawaban atas pertanyaan. Mencari kejelasan atas ketidaktahuan. 


Hasrat akan sebab-akibat ini hrs terpenuhi.


Dia. Perempuan yang berperkara dengaku ini harus diadili. Asumsiku tentang harus dibuktikan. Dengan kebenaran ataupun kekeliruannya. Tak ada jalan lain selain menyelami kepribadiannya. 


Dia, si jelita yang ada di bar itu.


aku pun mengumpulkan keberanian.


Harus duduk di sebelahnya. Harus berkenalan dengannya. Harus mengetahui kepribadiannya. Harus berlaku adil terhadapnya. 


Itu adalah niat-niat yang kutanamkan.


Kemudian, kaki ini beranjak dari tempat duduk. 


Perlahan bergerak. langkah demi langkah terasa berat. Seakan dunia berada dalam mode lambat. 


Jantung pun tak ingin melepas kesempatan ini. Dia berdetak tak seperti biasa. Kencang. Melebihi tempo biasanya. 


Ya Tuhan. Perasaan apa ini ? 


Sungguh menyiksa. 


Tapi aku ingin tahu. 


Penasaranku tak bisa terbendung. 


Harus disalurkan.


Lalu kaki ini berhenti tepat di sebelah kursi bar itu. 


Kemudian bibir meluncurkan kata. 


"sorry, kursi ini kosong ? boleh duduk di sini ?".



----------

Dago.
6 Juni 2018.

---

arostokrat
Read More