Saturday, July 1, 2017

Khotbah (Politik)

Ada dua khotbah yang menjadi perbincangan hangat pada Idul Fitri (1 Syawal 1438 Hijriah) tahun ini. Pertama adalah khotabah yang disampaikan disampaikan oleh Prof. Quraish Shihab dan kedua adalah khotabah yang diberikan oleh Ustadz Dr. H. Muhammad Ichsan, Lc, MA.

Kedua khotabah tersebut memiliki warna yang cukup kontras. Khotab pertama sangat menyejukan hati, sedangkan khotab kedua sangat provokatif, politis, dengan memposisikan diri sebagai korban (playing victim). Kesimpulan tersebut saya ambil setelah membaca naskah lengkapnya. (Naskah lengkap Quraish Shihab dan Naskah Lengkap Muhmmaad Ichsan)

Menarik untuk membahas sedikit tentang khotab yang kedua. Hirauan masyarakat Indonesia terhadap khotab Muhammad Ichsan berawal dari kabar yang beredar di media sosial bahwa jemaah di alun-alun Wonosari membubarkan diri setelah sang khotib memasukan materi tentang penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Singkat cerita, para jemaah yang membubarkan diri berpendapat bahwa konten dari khotab Idul Fitri tersebut sarat akan muatan politik.

Pada perkembangannya, kabar tersebut ditelusuri oleh awak media (mainstream maupun alternatif). Insiden di atas dipastikan keasliannya, setelah para wartawan menkofirmasi pihak-pihak yang berkaitan. Khotib dan panitia penyelenggara pun membenarkan kejadian tersebut.

Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan "Materi apa yang seharusnya disampaikan pada saat khotbah". "haruskah kita mengabaikan konten politik dalam khotab ?". Ini tidak hanya berlaku bagi khotab shalat Idul Fitri semata, namun juga khotab pada kegiatan-kegiatan keagamaan Islam lainnya. 

Merjuk kepada kepada KBBI Online

Khatib adalah orang yang menyampaikan khotab (pada waktu salah jum'at dan sebagainya), juga bisa disebut juru khotab serta bisa dilakukan oleh pegawai masjid.

Lebih lanjut lagi, khotib seharusnya menyampai tentang pokok khotabnya (pokok ajaran agama) kepada para jemaah. Idealnya khotib dapat membimbing umatnya menjadi pribadi yang lebih baik. Atau dalam kasus vulgar, mengubah karakter umat yang biadab menjadi beradab.

Selama ini, saya memantau bahwa ada kesalahpahaman dalam masyarakat kita terhadap Islam, Politik, dan Politik Islam. Kebanyakan masyarakat Indonesa (setidaknya itu yang saya lihat di wilayah Bandung dan Jawa Barat) cenderung gagal mengidentifikasi ketiga unsur tersebut sebagai entitas yang terpisah. 

Sikap yang dominan adalah masyarakat cenderung mencampur-adukan ketiga unsur tersebut sebagai produk tunggal.

Prinsipnya adalah Islam merupakan bentuk dan sistem kepercayaan, sehingga subtansinya harus diletakan pada hubungan antara manusia dan pencipta, meskipun dalam ajarannya mengatur juga hubungan sesama umat manusia. 

Sedangkan politik selalu berbicara tentang kekuasaan. Kombinasi kedua aspek di atas menghasilkan politik Islam - merupakan praktek (memperoleh atau mempertahankan) kekuasaan yang dibalik aspek keagamaan. Disini harus ditekankan bahwa yang sangat mendominasi adalah aspek politik karena praktik-praktinya sarat akan masalah keduniaan.

Kegagalan mengidentifikasi ketiga aspek tersebut menempatkan masyarakat rentan akan dimanipulasi para orator politik yang berbaju pemuka agama. Bukan memainkan konten, tapi menggunakan sentimen.

Contoh tersebut dapat kita lihat dalam dua paragraf ceramah Muhammad Ichsan.

"Hingga hari ini masih ada usaha-usaha membenturkan umat Islam dengan dengan Pancasila. Umat Islam yang berbeda pendapat dengan pemerintah dan penegak hukum dianggap anti-pancasila, anti-bhineka tunggal ika dan anti-NKRI. Masih ada pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh Islam, meskipun selalu dinafikan dan dibantah. Masih terasa hukum selalu tajam terhadap ulama, tokoh, dan aktivis Islam, dan terhadap umat Islam pada umumnya, tapi tumpul terhadap Ahok dan para pendukungnya.

Sebagai contoh, ketika Aksi Bela Islam 212 masih berdemo setelah maghrib mereka langsung dibubarkan secara paksa dengan gas air mata, sementara para pendukung Ahok dibiarkan berdemo sampai larut malam di depan LP Cipinang. Ketika bendera kita ditulis kalimah laa ilaaha illallah, penulisnya langsung diciduk, sementara bendera mereka sering ditulisi tulisan-tulisan lain tapi dibiarkan. Ketika akan berdemo sebagian tokoh Islam ditangkap dengan tuduhan makar, sementara yang terang-terang akan makar di Papua atau memakai atribut PKI yang terlarang justru dibiarkan bebas."

Kutipan di atas dapat disimpulkan sarat akan sentimen bahwa umat Islam Indonesia sedang tersudutkan. Dengan gaya pemaparan playing victim.

Padahal jika kita berpikir dengan jernih, kita bisa menguji pernyataan-pernyataannya. Sehingga dapat dibuktikan kebenarannya. (pembahasan singkat tentang kebenaran dapat dilihat di bukunya Jujun Sudarminta, Filsasfat: Sebuah Pengantar Populer).

"Apa usaha-usaha membenturkan umat Islam dengan Pancasila yang khatib maksud ?", "apa dasar argumentasi adanya pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh Islam?". "Atas dasar apa khatib mengatakan hukum selalu tajam terhadap ulama, tokoh, dan aktivis Islam ?", "apakah memiliki data numerik/statistik yang dapat mendukung pernyataan tersebut?", "ataukah itu hanya interpretasi sepintas saja ?", "apakah khatib sudah mengonfirmasi kepada pihak kepolisian juga TNI bahwa yang melakukan makar di Papua dan yang menggunakan atribut PKI dibiarkan ?". Dst.

Jika jawabannya adalah "tidak", dapat dikatakan hal tersebut sebagai tuduhan tanpa dasar.

Menyinggung tentang kasus hukum yang disinggung oleh khatib. Jujur, saya sebagai orang yang ditempa dalam lingkungan akademik menyayangkan pernyataan khotib yang tidak penuh kehati-hatian. 


Seharusnya sebagai orang yang sadar hukum, beliau pasti mengetahui bahwa Indonesia memiliki legal system-nya sendiri yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika merasa ada ketidakadilan, saya kira seharusnya beliau melakukan advokasi sesuai koridor aturan yang berlaku. Bukan menyampaikan isi khutbah yang tendensius, apalagi dilakukan pada momen Idul Fitri yang seharusnya penuh nuansa kedamaian.

Adanya konten politik dalam khotbah juga cenderung mengarahkan pada distorsi realitas.

Pada akhir Februari tahun ini saya sempat melaksanakan shalat Jum'at di kampus saya, bertempat di Dago. Ada yang menarik dalam isi khutbahnya. 

Di tengah khutbah, sang khotib berkata bahwa Presiden Amerika Serikat ke-45, Donald Trump memuji umat Islam. Sang khotib mengatakan bahwa dia melihat video Donald Trump di Smartphone-nya yang memuji kegiatan haji sebagai sea of love. (Video dapat dilihat disini)

Video tersebut memang benar keberadaannya, namun yang harus digaris bawahi adalah video tersebut bentuk mocking terhadap upaya Trump dalam membela inagurasinya.

Saat itu saya masih mengikuti perkembangan politik dalam negeri Amerika Serikat. Di dalam negeri, Trump medapatkan cibiran karena dianggap bukan figur yang tepat untuk memimpin Amerika. Selain itu, ketika hari inagurasi, jumlah audiens yang datang tidak sebanyak ketika Obama dilantik, serta acaranya tidak diisi oleh penyanyi papan atas Hollywood.

Menanggapi kondisi tersebut, Trump menggunakan strategi PR untuk menimbulkan kesan inagurasi dirinya didatangi oleh audiens yang banyak sebagaimana Obama dulu. Nah, ketika diliput oleh ABC News, Trump mengajak sang jurnalis untuk melihat foto-foto inagurasinya yang menampilkan banyak orang. Para analisis berpendapat bahwa gambar yang ditunjukan Trump kepada jurnalis ABC News tidak lebih dari hasil photoshop.

Oleh karena itu muncul berbagai ejekan terhadap upaya tersebut, salah satunya mengganti gambar photoshop tadi dengan gambar Ka'bah. (Video yang asli dapat dilihat di sini)

Kembali pada isu utama tulisan ini Khotab (Politik). Saya kira khotab harus diletakan pada fitrahnya sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran agama. Misalnya bagaimana seharusnya umat Islam bersikap terhadap sesama dan yang berbeda, nilai-nilai apa yang mutlak harus dimiliki oleh Islam, atau bagaimana cara kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah S.W.T.

Bukan berbicara bidang yang bukan ahlinya, seperti politik, ekonomi, budaya, atau hukum. Meskipun, ada kemungkinan beberapa khatib memiliki pengetahuan cukup mendalam tentang itu. Tapi penyampiannya tentu harus pada tempatnya. Misalnya dilakukan dengan sesama pakar.

Karena, saya sebagai penstudi Hubungan Internasional suka geli ketika mendengar khotbah yang menyinggung bahwa kita sedang diincar oleh 'asing', atau Israel bersekutu dengan Singapura.

Saya tidak akan menolak semua anggapan tersebut karena hubungan internasional merupakan politik antar bangsa. Setiap negara memiliki kepentingannya masing-masing. Tapi penyampaiannya tidak dibingkai melalui momok teori konsprasi. (Baca Mengimani Konspirasi)

Jika dikaji lebih mendalami, apa yang dimaksud asing adalah unsur yang bukan Indonesia. Setidaknya pada tahun 2017 ini, ada 192 (negara) yang bukan Indonesia. Jadi "apakah yang dimaksud diincar oleh Asing ini, Indonesia diincar oleh 192 negara berdaulat ? yang termasuk didalamnya negara-negara Arab atau bagaimana ?". 

Lalu menjawab anggapan Israel yang bersekutu dengan Singapura. Memang ada kerjasama militer antara Israel dan Singapura, namun tidak lantas ditujukan untuk menyerang Indonesia. Hal tersebut ditujukan untuk meningkatkan kekuatan pertahanan Singapura semata. 

Pada satu titik saya dapat bersimpati terhadap para ahli farmasi, dokter, ekonom, pengacara, astronom, dan geolog ketika menghadapi orator-orator politik yang berbicara di mimbar keagamaan dengan kesan seakan-akan akademik. (sebut saja kaum anti vaksin, bumi datar, anti-kapitalisme, dan sejenisnya)

Maka dari itu, ditegaskan kembali bahwa khotib harus bersikap bijak dengan meletakan khotbah keagamaan  pada fitrahnya. Yakni, membangun fondasi dan menyebarkan nilai-nilai dasar Islam terhadap umat dalam hubungan habluminallah dan habluminannas.
Read More

Wednesday, June 28, 2017

Persistence

"Nothing in the world can take the place of Persistence. Talent will not; nothing is more common than unsuccessful men with talent. Genius will not; unrewarded genius is almost a proverb. Education will not; the world is full of educated derelicts. Persistence and Determination alone are omnipotent. The slogan “Press On” has solved and will always solve the problems of the human race."

- Calvin Coolidge.
Read More

Monday, March 27, 2017

28 Tahun (Refleksi Tentang Quarter Life Crisis)

Tidak pernah saya membuat catatan tentang momen ulang tahun. Mungkin karena keluarga saya berpandangan bahwa momen ulang tahun bukanlah peristiwa yang signifikan. Itupun cukup berpengaruh kepada diri saya.

Sejak lahir sampai sekarang (28 tahun), jarang sekali saya merasakan momen perayaan satu tahunan tersebut. Saya lupa persisnya, tapi sedikitnya keluarga kami sempat menggelarnya dua sampai empat kali. Itu pun bukan merayakan hari kelahiran saya.

Bagi saya pribadi, 28 tahun bukan hanya rentang waktu saya hidup. Namun juga momen yang tepat (atau bisa juga disebut terlambat) untuk merefleksikan diri.

Pandangan umum mengatakan bahwa rentang umur 25 hingga 30 adalah masa-masa kritis kehidupan seseorang. Quarter life Crisis.

Jujur saya sedang mengalami kondisi seperti itu dalam beberapa satu tahun terakhir ini. (25 Tanda Quarter Life Crisis).

Ada keraguan dan ketidakyakinan atas jalan yang telah dipilih dan proses sedang dijalani. Ntah urusan personal ataupun profesional.

Sering muncul pertanyaan "apakah saya memang ingin memilih jalan ini?", "apakah ini jalan yang terbaik bagi saya ?", "Bagaimaa saya mengetahui bahwa pilihan ini adalah yang terbaik ?", "Bagaimana saya mengetahui bahwa ini bukanlah pilihan yang buruk/terburuk".

Saya memahami bahwa apapun yang sedang, akan, atau hal yang akan saya lanjutkan tidaklah akan mudah. Saya pun sangat memahami itu. Sebagaimana yang dikatakan oleh R.M.P Sosrokartono.

"Mau rajin atau malas. hidup memang sulit".

Tapi untuk mendapatkan kepastian adalah sesuatu yang cukup sulit. Walaupun bukan hal yang mustahil.

Sering saya berbagi pandangan tentang proses hidup ini dengan beberapa sahabat, seperti Mas Arief, Kang Pradip, juga Kang Aki.

Kang Pradip berkata bahwa apa yang sedang saya alami adalah bentuk kejenuhan. Pertemuan pada titik tersebut merupakan hal yang wajar dialami oleh manusia.

Pandangan berbeda dikeluar oleh Kang Reza. Menurutnya, apa yang sedang alami harus diselesaikan melalui kegiatan piknik. Kang Reza atau yang dikenal dengan sapaan Aki (Kakek), menuturkan bahwa saya harus sering-sering beraktivitas di luar rumah agar kejenuhan yang dirasakan tidak bertambah parah.

Mungkin apa yang dikatakan Kang Reza ada benarnya. Toh, selama ini saya memang terlalu fokus di wilayah Jawa Barat sehingga kerapkali kurang memanjakan kebutuhan akan hiburan. Seperti berpergian ke luar negeri misalnya.

Sedangkan Mas Arief yang akrab dipanggil Aboy cenderung mengingatkan saya tentang proses yang pernah dan sedang saya lakukan "sayanglah kalau harus berhenti di tengah jalan, mas kan udah (melakukan) ini juga itu".

Keraguan yang saya rasakan secara perlahan mulai hilang setelah mendapatkan masukan dari sahabat-sahabat saya.

Saya harus mengakui bahwa tidak ada kepastian dalam setiap proses dan pilihan.

Yah.. Perjalanan ini adalah seni, bukan eksakta. Setiap momen kita berefleksi, setiap kesempatan kita berkreasi.

Akhir kata, refleksi 28 tahun mengarahkan pada kepastian "tidak ada yang pasti, suka atau tidak suka akan tetap dan harus dijalani sampai ajal nanti".


Read More