Wednesday, August 9, 2017

Sebelum Makan, Berdua dulu.

Karya Mang Odet.


Seringkali kita menyepelekan berdoa ketika menyantap makan. Setidaknya itu yang saya alami dan saya lakukan yang akhirnya menjadi suatu kebiassaan. Padahal, dalam setiap makanan yang kita terima, ada rizki dan barokah dari Sang Pencipta terhadap kita umat manusia.

Terlalu lebay ketika kita membandingkan kita berpunya dengan mereka tidak terlalu banyak punya. Ini bukan ditujukan sebagai bentuk kekufuran atau kesombongan atau hal yang dimiliki. Tapi kehidupan memang tidak adil, selalu tidak adil.

Meminta keadilan adalah kekeliruan, karena keadilan hanya akan diperoleh kepada yang memperjuangkannya. Klise memang, tapi seperti itulah hukumnya. Ada beberapa kasus yang mana keadilan diperoleh melalui pemberian, mungkin sangat terbatas.

Teruntuk mereka yang merasa berkecukupan. Mereka harus bersyukur atas ketidakadilan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Ketidakadilan atas tempat lahir, ketidakadilan atas rezeki, dan ketidakadilan kehidupan yang masih memberikan hak milik dalam hidup.

Tidak berlebihan jika seharusnya saya dan juga mereka mensyukuri setiap ketidakadilan (rizki) dalam setiap makanan dengan berucap doa, syukur-syukur jika makannya bisa berdua.

(ariefrosadi.com/ars).


Read More

Thursday, July 27, 2017

Satu Dekade Zero Sette: Kenangan dan Catatan

Foto Angkatan 2007 di BGG Jatinangor

2007

Saya masih sedikit ingat apa yang terjadi ketika saya masuk HI UNPAD pada tahun 2007. Pada saat itu merupakan periode peralihan dari SMA menjadi mahasiswa. Ada yang beda. Itu pasti, karena lingkungan yang saya hadapi berbeda ketika masih memakai seragam putih abu-abu.

Jika lingkungan pada SMA cenderung homogen, seperti didominasi oleh mayoritas Sunda, perbedaan ekonomi yang tidak terlalu jomplang, pergaulan dan ketertarikan yang cenderung sama (suka musik Indie/rock n' roll misalnya). Maka dunia mahasiswa/dunia awal memasuki kehidupan nyata mutlak berkarakteristik heterogen. Perbedaan adalah hal yang lumrah. 

Ada kekhawatiran menghadapi kenyataan itu. Saya harus menerima lingkungan baru yang suka tidak suka mengharuskan saya berinteraksi dengan teman-teman berbeda latar belakang. Bukan hanya perbedaan suku, namun juga agama, pandangan politik, status sosial, dan kemampuan ekonomi.

Boleh dikatakan pada saat itu saya menganggap bahwa HI UNPAD 2007 seperti miniatur Indonesia. Memang tidak semua suku yang ada di Indonesia ada perwakilannya di HI UNPAD 2007, namun hampir setiap wilayah bagian Indonesia ada perwakilannya. Dimulai dari orang Padang, Batak, Sunda, Jawa, Bali, Kalimantan, Tionghoa, hingga Papua.

Hal yang pertama saya rasakan ketika berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda latar tersebut adalah takut. Mungkin karena sebelumnya telah menerima streotipe tertentu tentang suku tertentu. Saya kira mereka pun memiliki perasaan yang demikian, sudah memilliki praduga tentang suku Sunda.

Namun, ketika berinteraksi dengan teman-teman baru HI UNPAD 2007, praduga tersebut tidak selalu benar. Hal yang saya pelajari adalah orang yang berbicara dengan suara keras tidak selalu ganas, juga orang yang berbicara lemah lembut tidak selalu memiliki perasaan takut. Saya kira semua itu adalah hasil konstruksi pembentukan dari budaya dan lingkungan masing-masing. Tapi ada hal yang pasti, saya banyak menemukan teman-teman yang baik, memiliki karakter, dan berintegritas. 

Itulah kesan awal saya terhadap teman-teman Zero Sette. Pada perjalanan tidak selalu mulus memang, ada konflik, drama, hingga romansa, namun karena itulah membuat petualangan kami lebih berwarna. 


Organisasi & Kepanitiaan (2008 - 2009)

Saya sedikit ingat ketika awal memasuki bangku kuliah ibu saya memberikan nasihat kurang lebih seperti ini, "Kamu fokus saja sama kuliah, jangan pacaran, jangan cari kerja. Fokus saja kuliah, lulus, kerja kemudian menikah". Ingin sekali menuruti nasehat bunda, namun apa daya godaan di dunia kampus tak kuasa saya bendung.

Ada kebebasan yang didapat ketika keluar dari bangku SMA. Ada keingintahuan tentang apa itu dunia. Pada masa awal-awal seringkali terjadi perbincangan dengan teman-teman MABA (Mahasiswa Baru) tentang apa yang harus dilakukan selama kuliah. Berbagai perspektif dikemukakan namun ada poin yang selalu dominan, "harus aktif diorganisasi".

Pada saat itu saya tidak terlalu memahami esensinya. Hal yang saya pikirkan adalah, "mungkin jika aktif di organisasi, itu akan menambah isian dalam CV saya kelak". Saya itu juga saya gagal membedakan antara organisasi dan kepanitiaan. Padahal dua hal tersebut sangat berbeda.

Ok. Pada awal semester saya mencari-cari organisasi yang cocok dengan karakter saya, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti HIMA HI & BEM FISIP. Keputusan saya memilih dua organisasi ini sebenarnnya cukup blunder juga mengingat saya berada pada transisi etos belajar dari siswa menjadi mahasiswa yang dihadapkan dengan tugas yang sangat banyak. Cukup stress memang menghadapi semua itu, disisi lain saya harus mengerjakan tugas dalam satu minggu sebanyak 10-20 halaman untuk satu mata kuliah saja, itu belum termasuk mata kuliah lainnya. Disisi lain, agenda program kerja organisasi pun yang menyita waktupun harus dipenuhi. Kemudian, pilihan saya yang tidak ngekost pun mengakibatkan saya harus pulang-pergi Jatinangor-Antapani setiap hari. Al-hasil, saya pun jatuh sakit.

Di luar itu, terdapat momen-momen yang cukup berharga bagi hidup saya.

Pertama akan saya bahas tentang HIMA HI. Kontribusi saya di HIMA HI sebenarnnya sangat-sangat kecil. Pada saat itu saya mendaftar di Departemen Infokom, namun ntah bagaimana ceritanya saya dipindahkan ke Departemen Olahraga. Intinya selama setahun itu saya dalam posisi gabut, ada memang program kerja, namun tidak berjalan efektif.

Hal yang paling berkesan di HIMA HI adalah saya menyaksikan kelahiran Symphonesia. Setelah diumumkannya hasil rekruitmen anggota BPH (Badan Pengurus Harian) HIMA HI, Teh Mel sebagai Ketua HIMA saat itu melalui kadep-kadepnya mengumpulkan semua anggota BPH, baik yang senior/junior dalam suatu Rapat Besar (saya lupa istilah pastinya). Masing-masing departemen memaparkan program kerja, lalu kemudian didiskusikan baik perihal anggaran maupun timeline kerjanya.

Pada pembahasan terdapat beberapa program kerja yang cukup beririsan dan memiliki anggaran yang cukup besar, bahkan ada yang di atas 100 juta. Oleh karena itu ada yang mengusulkan untuk menggabungkan program-program kerja tersebut dalam satu rangkaian acara yang dinamai Symphonesia (Symphony of Indonesia) dengan menunjuk Kang Rico 2006 sebagai Ketua Pelaksana yang akan diselenggarakan pada tahun 2008.

Pada prosesnya, persiapan Symphonesia cukup melelahkan pikiran dan tenaga. Pada acara itu, saya ditarik oleh Dennis masuk divisi Talk Show yang mengundang Tisna Sanjaya, Albertina Fransisca  Mailoa, dan Huala Adolf. Pada proses mengundang pembicaraan tidak ada kendala yang berarti, masalah muncul dari internal kepanitiaan itu sendiri, khususnya dari para petinggi. Ada ketidaksonsistensian ketika memutuskan hal-hal yang sifatnya teknis, seperti pemilihan cenderamata kepada pembicara/pemateri, alur pengamanan, penentuan siapa saja yang menjadi tamu undangan khusus, hingga penanganan jika terjadi kejadian yang terduga. Poin-poin yang disebutkan cukup menyita pikiran dan tenaga.

Secara keseluruhan acara berjalan cukup lancar, namun Dennis berkata lain.

Setelah itu saya pun memilih untuk pulang, walaupun masih ada rangkaian acara lain. Saya berpikir karena saya telah menunaikan kewajiban dan berencana kembali ke Sabuga pada malam harinya untuk mengikuti acara konser musik. Tapi rencana tinggal rencana. Ketika saya pulang, saya sangat kelelahan kemudian tidur terlelap. Sekitar jam 7 malam, Arief Adit, Pradip, dan Amy menelopon saya, "dimana rif? buruan sini udah rame nih", namun karena badan saya sangat lelah saya tidak terlalu antusias terhadap ajakan mereka, "sok aja, ngantuk euy". Sebenarnnya teman-teman berusaha membujuk untuk datang. tapi apa daya kemalasan saya lebih besar daripada kemauan saya.


Dokumentasi Symhponesia (2007 - 2014).


Besok paginya, teman-teman tadi bikin saya ngiri. Arief Adit berkata, "lebar maneh gk datang, padahal rame kamari". "bener-bener from zero to hero". Apa yang dikatakan oleh Arief Adit sangat berlasan mengigat penjualan tiket pada pra-event tidak memenuhi target yang seharusnya, bahkan 1/4 dari total tiket yang tersedia pun tidak. Jika saya tidak salah mengingat, para petinggi memutuskan untuk mencetak sekitar 4000-4500 tiket. Kemudian Arief Adit menceritakan bahwa keramaian pengunjung dimulai ketika selesai Salat Magrib, meskipun pada saat itu kondisi cuaca hujan dan dingin namun hal tersebut tidak mengurungkan antusias penonton untuk datang.

Setelah hari itu, Sypmhonesia menjadi acara tahunan HI UNPAD, dan puncaknya adalah ketika angkatan 2007 menjadi panitia intinya (acara dilaksanakan pada tahun 2009). Di atas saya lampirkan beberapa tiket Symphonesia dari masa ke masa, Mungkin pembaca bertanya, kenapa pada acara Symphonesia tahun 2009 saya tidak menampilkan tiket, namun hanya menampilkan selebaran promosi acaranya. Hal tersebut disebabkan tiket Symphonesia pada tahun 2009 sudah sold out bahkan sebelum hari H-nya.

Kedua adalah BEM FISIP UNPAD, berbeda dengan HIMA HI yang cenderung homogen, maka BEM FISIP sangat heterogen. Hampir semua mahasiswa jurusan yang ada di FISIP tergabung didalamnya. Pada tahun 2008 saya mendaftarkan diri di Departemen Kajian Sosial Politik (pada perkembangannya nama tersebut sering berubah-ubah meskipun subtansinya tetap fokus pada kajian). Kadepnya adalah Kang Reza Wahyu Anzaya, pertama kali ketemu dengan Kang Reza sangat identik dengan Aher- Ahamad Heryawan, Gubernur Jawa Barat. Hal tersebut bisa dilihat dari kontur muka yang tipikal. Mungkin perbedannya terletak pada rambut Kang Reza yang lebih klimis karena efek minyak rambut.

Bagi Kang Reza, menjalankan KSP tidak hanya sebagai menjalankan program kerja atau dalam bahasanya hanya sebagai event organizer. Dalam visinya, anggota KSP harus memiliki karakter, maka tidak heran jika selama dalam asuhannya kami (Arief Adit, Z, Dadan, Solpa, dan Widy) baik langsung ataupun tidak langsung dikader oleh beliau.Di luar kadep, Kang Reza pun aktif sebagai kader HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Kondisi di BEM hampir terbalik dengan kondisi saya di HIMA HI. Jika di HIMA HI saya gabut, maka di BEM saya benar-benar sibuk. Banyak program yang dicanangkan, tapi itu buka sebagai retorika tapi juga program yang nyata. Setiap minggu dan setiap kami memiliki acara yang disebut kajian mingguan dan kajian bulanan. Memang tanggungjawab utamanya bukan saya, tapi Widy. Namun, mau tidak mau saya pasti terlibat dalam kepanitiannya. Selain itu, setiap minggu Kang Reza juga menanyakan progres persiapan yang dipegang oleh setiap anggota. Kebetulan pada saat itu saya pegang acara Debat Logika Se-FISIP UNPAD.

Diantara semua departemen yang ada di FISIP UNPAD, hanya KSP dibawah pimpinan Kang Reza yang benar-benar hidup. Bahkan saking hidupnya, semua anggota KSP dekat dengan Kang Maul (Ketua BEM). Hingga suatu ketika, di akhir kepengurusan, diselenggarakanlah libur bersama semua Anggota BEM dan pada saat itu memang jadwalnya tidak sinkron, hampir semua anggota KSP tidak ikut. Hal tersebut mengundang komentar dari Kang Maul "Saya tidak ridho kalau kalian tidak ikut, kalian yang paling banyak kerja tapi kalian yang tidak ikut liburan". Tapi keputusan kami sudah final karena memang ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan.

Selain BEM dan HIMA HI, sebenarnnya banyak kepanitiaan yang saya ikuti. Pada dasarnya masih dibawah kegiatan kedua organisasi itu juga. Hal tersebut terjadi karena, saya dan teman-teman menjalin hubungan yang baik dengan sesama anggota organisasi. Al-hasil sering sering terjadi 'tarik-menarik' kepanitiaan. Sebut saja, Cinta Oma 1 & 2 (Acara Depsos HI), HI Goes to School (acara Penjar HI), dll.

Di luar itu juga saya terlibat dalam kegiatan PPKMB (Program Pengembangan Kreativitas Mahasiswa Baru), sebuah nama pengganti OSPEK. Saya memilih divisi Medik/IRMA (International Relations Medical Team). Selama dua tahun hampir setiap minggu saya berlatih dengan anggota lainnya. Pada tahun pertama (2008) sebagai anggota, tahun kedua (2009) sebagai koordinator. Di tahun kedua, kegiatan sangat padat. Setiap minggu Pak Ketua Panitia - Mufli, selalu meminta rakor (rapat koordinator) guna membahas progres persiapan. Pernah suatu waktu, saya berbincang dengan Riri, Riki, Fahmi dan Solpa dalam acara makan santai, "mending kita buka EO aja yuk, kagok edan racing team (cadaan anak muda pada saat itu) ini".

Celetukan tersebut bukan hana sebuah candaan, tapi juga memiliki dasar pengalaman mengingat selama dua tahun itu fokus utama kami memang membuat kegiatan. Padat memang, tapi kami mampu memenej waktu dan tenaga seefisien mungkin.

Selama dua tahun itu saya bertanya, "apa yang saya dapat?". Setiap minggu pasti ada rapat, pulang malam, lelah badan, dan ada waktu bermain yang banyak dikorbankan. Tapi ada manfaat yang saya rasakan secara tidak langsung, yakni meningkatnya kemampuan menejerial. Sering berpikir berpikir bahwa kerja yang terbaik adalah berada di top management. Pandangan tadi tidak sepenuhnya benar, tapi tidak sepenuhnya salah juga.

Berada pada posisi atas memberikan pemegang amanah tunjangan yang besar dan status sosial yang lebih tinggi, namun kerja adalah performa. Posisi di atas tidak menjamin performa menjadi bagus, itu tergantung dari kemampuannya individu. Kerja adalah menjalankan peran secara optimal dalam organisasi, ntah bertanggungjawab atas keseluruhan acara, kesekertariatan, konsumsi, logistik, atau hubungan masyarakat. Itu harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Drama, Konflik, dan Politik (2009 - 2010)
(Pending dulu)

Bimbingan: Langkah Awal Menjadi Intelektual (2010 - 2012)

Layaknya mahasiswa semester akhir, maka saya pun mulai menjalani proses penyusunan skripsi. Tema yang saya ambil adalah diplomasi publik dengan objek penelitian - Festival Sinema Perancis (FSP). Proses pemilihan tersebut tidak tergolong unik, saya memilihnya karena kajian diplomasi publik sedang booming. Adapun dijadikan Perancis sebagai objek kajian atas pilihan acak.

Pada suatu masa, di penghujung semester tujuh, teman-teman satu angkatan sudah mengajukan judul peneliti. Bahkan sudah ada yang mengajukan Usulan Penelitian. Saat itu, saya pada posisi bingung. Teman dekat saya mengatakan, "cari aja topik yang kamu suka". Arahan bijak tersebut tetap tidak memberikan pencerahan, karena pada saat itu saya memilih jurusan HI (walau pada akhirnya menerima dan bergelut di sana) sebagai bagian 'kecelakaan'.Saya pribadi lebih bersemangat membahas politik lokal/nasional (pada saat itu jurusan Politik belum ada di UNPAD). Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur dan tidak mungkin juga saya harus pindah kampus.

Memasuki akhir tahun saya belum menemukan topik dan objek yang akan diteliti. Saya pun memutuskan untuk melupakannya sejenak dengan mengunjungi bioskop di salah satu pusat perbelanjaan yang bertempat di kawasan Merdeka - Bandung. Ada yang menarik ketika saya sedang antri di loket pembelian tiket bioskop. Tidak sampai sepuluh meter dari tempat itu, terdapat stand loket tersendiri yang disebelah mejanya terdapat stand banner bertulisan "Festival Sinema Perancis"/FSP. Setelah saya membeli tiket bioskop, saya menghampiri stand loket tadi. Kemudian bertanya-tanya kepada sang penjaga perihal kegiatan, pendanaan, hingga penyelengaraannya. Singkat kata, acara tersebut akan dijadikan oleh saya sebagai objek penelitian.

Dalam mengkaji FSP ini, saya berada di bawah bimbingan Ibu Junita Budi Rahman (Ibu Nita) dan Ibu Viani Puspitasari (Teh Viani). Hal tersebut dikarenakan Ibu Nita hirauan terhadap kajian-kajian budaya dalam Hubungan Internasional, sedangkan Teh Viani hirauan terhadap kajian-kajian yang secara subtansial berhubungan dengan Perancis. Namun, pada proses penyusunan tugas akhir itu, saya lebih besar porsinya dengan  Ibu Nita. Tujuannya untuk menguatkan logika dan fondasi berpikir saya dalam memahami dan menafsirkan dunia.

Ketika bimbingan dengan Ibu Nita, saya tidak sendiri. Ada juga teman-teman 2007 lainnya, seperti Bima, Febe, Feby, Iffa, Seny, dan Riki - yang kemudia membentuk genk soft-text. Penamaan kelompok tersebut didasarkan hampir semua bimbingan Ibu Nita yang angkatan 2007 menggunakan konsep soft power dan fokus pada anlisis textual.

Hampir setiap bimbingan kita selalu bersama. Adanya kebersamaan dapat ditafsirkan sebagai bentuk kerjsama dan dukungan moral terhadap satu sama lain. Metode yang digunakan Ibu Nita dalam membimbing anak-anaknya dapat dikatakan berbeda. Jika dosen lain ketika membimbing lebih mendekatkan pada perintah instruktif, "harus menggunakan teori ini", "harus mengkaji objek ini". Maka Ibu Nita mengarahkan pada proses penalaran yang mendalam dan cenderung berpikir filosofis, "Kenapa harus menggunakan teori ini, tidak itu?", "Aspek apa yang akan kamu teliti dalam peneliti kamu?", "Signifikansinya apa sampa harus diteliti ?".

Pada proses itu, Ibu Nita jarang memberikan jawaban. Lebih sering mengarahkan kami untuk baca buku ini atau baca artikel jurnal itu. Konsekuensinya adalah kami para pembelajar harus menguasai materi-materi yang disarankan. Pencarian bahannya pun kadangkala tidak semua berasal dari beliau. Kadang beliau hanya memberikan petunjuk dan disitulah kami bereksplorasi dengan militan untuk menemukan bahan yang dimaksud.

Selama bimbingan, saya tidak menyadari bahwa poin yang ditekankan beliau adalah memahami state of the art dari HI itu sendiri. Sebagai disiplin, HI dapat ditafsirkan sebagai kajian yang unik. Pembentukannya didasarkan pada tiga disiplin ilmu; Sejarah (Diplomatik), Filsafat (Politik), dan Hukum (Internasional).

Hal tersebut belum termasuk perkembangannya yang banyak mengadopsi pendekatan eksakta dan perspektif ilmu-ilmu sosial, seperti pendekatan tingkat laku, teori permainan, dinamika sistem, teori pilihan rasional, posmodernisme, postrukturalisme, poskolonialisme, hingga teori hijau. Maka, jika mengkaji sejarah perkembangan studi HI akan terlihat rentetan perdebatan antar penstudi yang dikenal dengan The Great Debates.

Ibu Nita menenkan jika ingin memahami dan menggunakan suatu pemikiran, penstudi hari memahami pemikiran yang mendasarinya. Sumber rujukannya pun harus berasal dari sang pemikir langsung. Sebagai contoh, karena saya akan mengkaji tentang film, maka saya berencana menggunakan pendekatan posmodernisme-nya James Der Derian. Konsekuensinya, saya harus membaca bukunya dengan judul Internatonal/Intertextual Relations: Postmodern Readings of a World Politics. Tidak hanya itu, saya selaku penstudi pun harus membaca pemikiran yang menjadi latar lahirnya posmodernisme dalam studi HI. Dalam konteks penelitian, saya harus membaca buku Empire of Signs, karya Roland Barthes.

Membaca karya yang dianggap sudah mapan dalam disiplin HI dan karya yang menjadi inspirasinya ditujukan untuk melihat proses pembangunan teori (theory building). Ntah pada tingkat peminjaman (to borrow), adopsian (to adopt), atau penerapan (to apply). Sangat kental akan filsafat ilmu, tapi yah begitu kenyataannya. Kemudian dilihat juga bagaimana penggunaan konsep yang digunakan dari kedua pemikir tersebut dalam bidangnya masing-masing. Dilihat juga,di mana persamaannya dan di mana perbedaannya. Hingga pada akhirnya, saya punya argumentasi dan berani mengambil keputusan untuk menggunakan pendekatan tersebut.

Rentetan berpikir seperti itulah selalu ditanyakan oleh Ibu Nita. Maka tidak heran, jika teman-teman soft-text sering bertukar pikiran atau brain stroming. Selain menguatkan proses berpikir, selama masa bimbingan saya pun mendapat pelajar berharga tentang menulis. Pada tahapan ini, Ibu Nita mengarahkan kami kepada Kang Jawot 2005 untuk belajar menulis. Saya ingin hal penting yang diungkapkan Kang Jawot tentang menulis.

Kurang lebih seperti ini, "Hal yang menarik dalam suatu tulisan adalah paragraf pertama dan hal utama dari paragraf pertama adalah kalimat pertama. Kalau bisa paragraf pertama benar-benar mencerminkan judul penelitian. Tidak perlu dalam paragraf pertama mengatakan 'studi penelitian adalah bla bla bla'. Ngapain ? toh yang ngujinya juga penstudi HI, pasti lebih tahu dari kita. Mereka-mereka kan sudah Professor dan Doktor, minimal master-lah.".

"Lagipula, jika orang awam baca yang akan dilihat itu tentang fenomena dan objek penelitiannya bukan tentang pemahaman kita terhadap HI. Kalau paragraf dan kalimat pertama tidak menarik, jarang yang mau lanjut baca ke halaman-halaman berikutnya". Contohnya bisa dilihat di bawah ini: Paragraf pertama dari skripsi saya dengan judul "Diplomasi Pencitraan Perancis melalui Festival Sinema Perancis di Indonesia tahun 2011".

"Aktivitas diplomasi publik yang dilakukan oleh suatu negara memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar negeri untuk ikut terlibat di dalamnya. Namun, disadari tau tidak, diplomasi publik tersebut memuat nilai-nilai ideologi tertentu yang ingin disampaikan negara kepada masyarakat luar negeri. Nilai-nilai tersebut diproyeksikan melalui citra - diplomasi pencitraan. Salah satu medianya adalah film melalui festival sinema yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Diplomatik Negara tersebut." (Rosadi, 2013: 1)

Saya kira ketika orang membaca tulisa di atas. Mereka dapat langsung menafsirkan bahwa tulisan saya akan membahas tentang diplomasi publik yang memiliki ideologi tertentu yang penyampaiannya dilakukan melalui penyelenggaraan festival sinema. Dan itu penting, setidaknya dapat membuat orang tertarik dan fokus pada pembahasan. Kemudian, Kang Jawot juga memberikan saran untuk satu paragraf memuat satu ide. Kemudian disusunlah ide-ide tersebut dalam alur yang sistematis hingga mengerucut pada ide yang menjadi tujuan utama tulisan.

Bagi saya pribadi, menulis sebenarnnya bukan hal yang baru. Sejak 2009 saya sudah blogging, meskipun banyak sekali tulisan yang harus dihapus karena suatu hal dan lain-lain (hampir 98%). Namun, dengan saran Kang Jawot, setidaknya tulisan saya lebih tertata dan mengalir. Singkatnya menulis itu bukan hanya aktivitas motorik, namun juga kreatif dan kongnitif. Dua hal yang terakhir adalah intinya.

Kembali ke inti bagian tulisan ini. Saya melihat apa yang dilakukan Ibu Nita kepada anak-anak bimbingannya adalah untuk mengubah pola pikir peneliti Indonesia yang cenderung user, bukan developer. Bukan pertanyaan, "Apakah konsep ini HI atau tidak HI", tapi "Bagaimana konsep ini berguna, digunakan, dan dapat diterima dalam HI". Memang terlalu dini untuk kami, tingkat sarjana membuat pemikiran yang menerabas kemandekan studi HI. Tapi setidaknya, pola pikir, metode awal, dan mental itu berhasil ditanamkan kepada kami.

Seperti yang pernah Ibu Nita wejangkan kepada pada follower-na di Twitter dengan mengutip pepatah dalam Bahasa Inggris.


"Never be afraid to try something new. Remember, amateurs (undergraduate) built Ark, Professionals built Titanic."




Dari kiri ke kanan : Bima, Aki, dan Aros.




Menghadiri Makrab Angkatan 2011.
Dari kiri ke kanan: Nizar, Aros, Robi, Iya, Z, Ami, Hilda, dan Aki.

/



Noted: foto lain dan deskripsinya akan segera menyusul.
Read More

Saturday, July 1, 2017

Khotbah (Politik)

Ilustrasi: Khotabah


Ada dua khotbah yang menjadi perbincangan hangat pada Idul Fitri (1 Syawal 1438 Hijriah) tahun ini. Pertama adalah khotabah yang disampaikan disampaikan oleh Prof. Quraish Shihab dan kedua adalah khotabah yang diberikan oleh Ustadz Dr. H. Muhammad Ichsan, Lc, MA.

Kedua khotabah tersebut memiliki warna yang cukup kontras. Khotab pertama sangat menyejukan hati, sedangkan khotab kedua sangat provokatif, politis, dengan memposisikan diri sebagai korban (playing victim). Kesimpulan tersebut saya ambil setelah membaca naskah lengkapnya. (Naskah lengkap Quraish Shihab dan Naskah Lengkap Muhmmaad Ichsan)

Menarik untuk membahas sedikit tentang khotab yang kedua. Hirauan masyarakat Indonesia terhadap khotab Muhammad Ichsan berawal dari kabar yang beredar di media sosial bahwa jemaah di alun-alun Wonosari membubarkan diri setelah sang khotib memasukan materi tentang penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Singkat cerita, para jemaah yang membubarkan diri berpendapat bahwa konten dari khotab Idul Fitri tersebut sarat akan muatan politik.

Pada perkembangannya, kabar tersebut ditelusuri oleh awak media (mainstream maupun alternatif). Insiden di atas dipastikan keasliannya, setelah para wartawan menkofirmasi pihak-pihak yang berkaitan. Khotib dan panitia penyelenggara pun membenarkan kejadian tersebut.

Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan "Materi apa yang seharusnya disampaikan pada saat khotbah". "haruskah kita mengabaikan konten politik dalam khotab ?". Ini tidak hanya berlaku bagi khotab shalat Idul Fitri semata, namun juga khotab pada kegiatan-kegiatan keagamaan Islam lainnya.

Merujuk kepada kepada KBBI Online.

Khatib adalah orang yang menyampaikan khotab (pada waktu salah jum'at dan sebagainya), juga bisa disebut juru khotab serta bisa dilakukan oleh pegawai masjid.

Lebih lanjut lagi, khotib seharusnya menyampai tentang pokok khotabnya (pokok ajaran agama) kepada para jemaah. Idealnya khotib dapat membimbing umatnya menjadi pribadi yang lebih baik. Atau dalam kasus vulgar, mengubah karakter umat yang biadab menjadi beradab.

Selama ini, saya memantau bahwa ada kesalahpahaman dalam masyarakat kita terhadap Islam, Politik, dan Politik Islam. Kebanyakan masyarakat Indonesa (setidaknya itu yang saya lihat di wilayah Bandung dan Jawa Barat) cenderung gagal mengidentifikasi ketiga unsur tersebut sebagai entitas yang terpisah.

Sikap yang dominan adalah masyarakat cenderung mencampur-adukan ketiga unsur tersebut sebagai produk tunggal.

Prinsipnya adalah Islam merupakan bentuk dan sistem kepercayaan, sehingga subtansinya harus diletakan pada hubungan antara manusia dan pencipta, meskipun dalam ajarannya mengatur juga hubungan sesama umat manusia.

Sedangkan politik selalu berbicara tentang kekuasaan. Kombinasi kedua aspek di atas menghasilkan politik Islam - merupakan praktek (memperoleh atau mempertahankan) kekuasaan yang dibalik aspek keagamaan. Disini harus ditekankan bahwa yang sangat mendominasi adalah aspek politik karena praktik-praktinya sarat akan masalah keduniaan.

Kegagalan mengidentifikasi ketiga aspek tersebut menempatkan masyarakat rentan akan dimanipulasi para orator politik yang berbaju pemuka agama. Bukan memainkan konten, tapi menggunakan sentimen.

Contoh tersebut dapat kita lihat dalam dua paragraf ceramah Muhammad Ichsan.

"Hingga hari ini masih ada usaha-usaha membenturkan umat Islam dengan dengan Pancasila. Umat Islam yang berbeda pendapat dengan pemerintah dan penegak hukum dianggap anti-pancasila, anti-bhineka tunggal ika dan anti-NKRI. Masih ada pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh Islam, meskipun selalu dinafikan dan dibantah. Masih terasa hukum selalu tajam terhadap ulama, tokoh, dan aktivis Islam, dan terhadap umat Islam pada umumnya, tapi tumpul terhadap Ahok dan para pendukungnya."

Sebagai contoh, ketika Aksi Bela Islam 212 masih berdemo setelah maghrib mereka langsung dibubarkan secara paksa dengan gas air mata, sementara para pendukung Ahok dibiarkan berdemo sampai larut malam di depan LP Cipinang. Ketika bendera kita ditulis kalimah laa ilaaha illallah, penulisnya langsung diciduk, sementara bendera mereka sering ditulisi tulisan-tulisan lain tapi dibiarkan. Ketika akan berdemo sebagian tokoh Islam ditangkap dengan tuduhan makar, sementara yang terang-terang akan makar di Papua atau memakai atribut PKI yang terlarang justru dibiarkan bebas."

Kutipan di atas dapat disimpulkan sarat akan sentimen bahwa umat Islam Indonesia sedang tersudutkan. Dengan gaya pemaparan playing victim.

Padahal jika kita berpikir dengan jernih, kita bisa menguji pernyataan-pernyataannya. Sehingga dapat dibuktikan kebenarannya. (pembahasan singkat tentang kebenaran dapat dilihat di bukunya Jujun Sudarminta, Filsasfat: Sebuah Pengantar Populer).

"Apa usaha-usaha membenturkan umat Islam dengan Pancasila yang khatib maksud ?", "apa dasar argumentasi adanya pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh Islam?". "Atas dasar apa khatib mengatakan hukum selalu tajam terhadap ulama, tokoh, dan aktivis Islam ?", "apakah memiliki data numerik/statistik yang dapat mendukung pernyataan tersebut?", "ataukah itu hanya interpretasi sepintas saja ?", "apakah khatib sudah mengonfirmasi kepada pihak kepolisian juga TNI bahwa yang melakukan makar di Papua dan yang menggunakan atribut PKI dibiarkan ?". Dst.

Jika jawabannya adalah "tidak", dapat dikatakan hal tersebut sebagai tuduhan tanpa dasar.

Menyinggung tentang kasus hukum yang disinggung oleh khatib. Jujur, saya sebagai orang yang ditempa dalam lingkungan akademik menyayangkan pernyataan khotib yang tidak penuh kehati-hatian.

Mengingat beliau merupakan Wakil Dekan, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Seharusnya sebagai orang yang sadar hukum, beliau pasti mengetahui bahwa Indonesia memiliki legal system-nya sendiri yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika merasa ada ketidakadilan, saya kira seharusnya beliau melakukan advokasi sesuai koridor aturan yang berlaku. Bukan menyampaikan isi khutbah yang tendensius, apalagi dilakukan pada momen Idul Fitri yang seharusnya penuh nuansa kedamaian.

Adanya konten politik dalam khotbah juga cenderung mengarahkan pada distorsi realitas.

Pada akhir Februari tahun ini saya sempat melaksanakan shalat Jum'at di kampus saya, bertempat di Dago. Ada yang menarik dalam isi khutbahnya.

Di tengah khutbah, sang khotib berkata bahwa Presiden Amerika Serikat ke-45, Donald Trump memuji umat Islam. Sang khotib mengatakan bahwa dia melihat video Donald Trump di Smartphone-nya yang memuji kegiatan haji sebagai sea of love. (Video dapat dilihat disini)

Video tersebut memang benar keberadaannya, namun yang harus digaris bawahi adalah video tersebut bentuk mocking terhadap upaya Trump dalam membela inagurasinya.

Saat itu saya masih mengikuti perkembangan politik dalam negeri Amerika Serikat. Di dalam negeri, Trump medapatkan cibiran karena dianggap bukan figur yang tepat untuk memimpin Amerika. Selain itu, ketika hari inagurasi, jumlah audiens yang datang tidak sebanyak ketika Obama dilantik, serta acaranya tidak diisi oleh penyanyi papan atas Hollywood.

Menanggapi kondisi tersebut, Trump menggunakan strategi PR untuk menimbulkan kesan inagurasi dirinya didatangi oleh audiens yang banyak sebagaimana Obama dulu. Nah, ketika diliput oleh ABC News, Trump mengajak sang jurnalis untuk melihat foto-foto inagurasinya yang menampilkan banyak orang. Para analisis berpendapat bahwa gambar yang ditunjukan Trump kepada jurnalis ABC News tidak lebih dari hasil photoshop.

Oleh karena itu muncul berbagai ejekan terhadap upaya tersebut, salah satunya mengganti gambar photoshop tadi dengan gambar Ka'bah. (Video yang asli dapat dilihat di sini)

Kembali pada isu utama tulisan ini Khotab (Politik). Saya kira khotab harus diletakan pada fitrahnya sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran agama. Misalnya bagaimana seharusnya umat Islam bersikap terhadap sesama dan yang berbeda, nilai-nilai apa yang mutlak harus dimiliki oleh Islam, atau bagaimana cara kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah S.W.T.

Bukan berbicara bidang yang bukan ahlinya, seperti politik, ekonomi, budaya, atau hukum. Meskipun, ada kemungkinan beberapa khatib memiliki pengetahuan cukup mendalam tentang itu. Tapi penyampiannya tentu harus pada tempatnya. Misalnya dilakukan dengan sesama pakar.

Karena, saya sebagai penstudi Hubungan Internasional suka geli ketika mendengar khotbah yang menyinggung bahwa kita sedang diincar oleh 'asing', atau Israel bersekutu dengan Singapura.

Saya tidak akan menolak semua anggapan tersebut karena hubungan internasional merupakan politik antar bangsa. Setiap negara memiliki kepentingannya masing-masing. Tapi penyampaiannya tidak dibingkai melalui momok teori konsprasi. (Baca Mengimani Konspirasi)

Jika dikaji lebih mendalami, apa yang dimaksud asing adalah unsur yang bukan Indonesia. Setidaknya pada tahun 2017 ini, ada 192 (negara) yang bukan Indonesia. Jadi "apakah yang dimaksud diincar oleh Asing ini, Indonesia diincar oleh 192 negara berdaulat ? yang termasuk didalamnya negara-negara Arab atau bagaimana ?".

Lalu menjawab anggapan Israel yang bersekutu dengan Singapura. Memang ada kerjasama militer antara Israel dan Singapura, namun tidak lantas ditujukan untuk menyerang Indonesia. Hal tersebut ditujukan untuk meningkatkan kekuatan pertahanan Singapura semata.

Pada satu titik saya dapat bersimpati terhadap para ahli farmasi, dokter, ekonom, pengacara, astronom, dan geolog ketika menghadapi orator-orator politik yang berbicara di mimbar keagamaan dengan kesan seakan-akan akademik. (sebut saja kaum anti vaksin, bumi datar, anti-kapitalisme, dan sejenisnya)

Maka dari itu, ditegaskan kembali bahwa khotib harus bersikap bijak dengan meletakan khotbah keagamaan pada fitrahnya. Yakni, membangun fondasi dan menyebarkan nilai-nilai dasar Islam terhadap umat dalam hubungan habluminallah dan habluminannas.

(ariefrosadi.com/ars).
Read More

Monday, March 27, 2017

28 Tahun (Refleksi Tentang Quarter Life Crisis)

Ilustrasi: Quarter life Crisis


Tidak pernah saya membuat catatan tentang momen ulang tahun. Mungkin karena keluarga saya berpandangan bahwa momen ulang tahun bukanlah peristiwa yang signifikan. Itupun cukup berpengaruh kepada diri saya.

Sejak lahir sampai sekarang (28 tahun), jarang sekali saya merasakan momen perayaan satu tahunan tersebut. Saya lupa persisnya, tapi sedikitnya keluarga kami sempat menggelarnya dua sampai empat kali. Itu pun bukan merayakan hari kelahiran saya.

Bagi saya pribadi, 28 tahun bukan hanya rentang waktu saya hidup. Namun juga momen yang tepat (atau bisa juga disebut terlambat) untuk merefleksikan diri.

Pandangan umum mengatakan bahwa rentang umur 25 hingga 30 adalah masa-masa kritis kehidupan seseorang. Quarter life Crisis.

Jujur saya sedang mengalami kondisi seperti itu dalam beberapa satu tahun terakhir ini. (25 Tanda Quarter Life Crisis).

Ada keraguan dan ketidakyakinan atas jalan yang telah dipilih dan proses sedang dijalani. Ntah urusan personal ataupun profesional.

Sering muncul pertanyaan "apakah saya memang ingin memilih jalan ini?", "apakah ini jalan yang terbaik bagi saya ?", "Bagaimaa saya mengetahui bahwa pilihan ini adalah yang terbaik ?", "Bagaimana saya mengetahui bahwa ini bukanlah pilihan yang buruk/terburuk".

Saya memahami bahwa apapun yang sedang, akan, atau hal yang akan saya lanjutkan tidaklah akan mudah. Saya pun sangat memahami itu. Sebagaimana yang dikatakan oleh R.M.P Sosrokartono.

"Mau rajin atau malas. hidup memang sulit".

Tapi untuk mendapatkan kepastian adalah sesuatu yang cukup sulit. Walaupun bukan hal yang mustahil.

Sering saya berbagi pandangan tentang proses hidup ini dengan beberapa sahabat, seperti Mas Arief, Kang Pradip, juga Kang Aki.

Kang Pradip berkata bahwa apa yang sedang saya alami adalah bentuk kejenuhan. Pertemuan pada titik tersebut merupakan hal yang wajar dialami oleh manusia.

Pandangan berbeda dikeluar oleh Kang Reza. Menurutnya, apa yang sedang alami harus diselesaikan melalui kegiatan piknik. Kang Reza atau yang dikenal dengan sapaan Aki (Kakek), menuturkan bahwa saya harus sering-sering beraktivitas di luar rumah agar kejenuhan yang dirasakan tidak bertambah parah.

Mungkin apa yang dikatakan Kang Reza ada benarnya. Toh, selama ini saya memang terlalu fokus di wilayah Jawa Barat sehingga kerapkali kurang memanjakan kebutuhan akan hiburan. Seperti berpergian ke luar negeri misalnya.

Sedangkan Mas Arief yang akrab dipanggil Aboy cenderung mengingatkan saya tentang proses yang pernah dan sedang saya lakukan "sayanglah kalau harus berhenti di tengah jalan, mas kan udah (melakukan) ini juga itu".

Keraguan yang saya rasakan secara perlahan mulai hilang setelah mendapatkan masukan dari sahabat-sahabat saya.

Saya harus mengakui bahwa tidak ada kepastian dalam setiap proses dan pilihan.

Yah.. Perjalanan ini adalah seni, bukan eksakta. Setiap momen kita berefleksi, setiap kesempatan kita berkreasi.
Akhir kata, refleksi 28 tahun mengarahkan pada kepastian "tidak ada yang pasti, suka atau tidak suka akan tetap dan harus dijalani sampai ajal nanti".

(ariefrosadi.com/ars).
Read More