Monday, November 26, 2018

Cerita Lari

Tidak pernah sedikit pun saya membayangkan untuk menekuni hobi lari. Anggapan tersebut punya dasar pengalamannya sendiri.

---

Sedikit kilas balik ke masa kecil.

Di bangku SD, saya membenci olahraga lari. Alasannya sederhana, saya selalu kalah berlari dengan teman saya. Selain itu, cibiran dari teman, orang tua, dan saudara yang tidak jarang mengatakan, “ah lemah” semakin menguatkan ketidaksukaan saya dengan aktivitas berlari. Hal tersebut menyebabkan olahraga lari sebagai aktivitas yang selalu saya hindari.

Jika pun berandai-andai, saya lebih suka membayangkan menjadi pemain bulu tangkis. Di bangku SMP saya sempat mengikuti ekstrakulikuler bulu tangkis dan mengikuti pelatihan di Gor Sangkuriang – tempat Taufik Hidayat dulu berlatih. Namun, kesuksaan saya terhadap bulu tangkis tidak lama. Memasuki SMA saya pasif dalam beraktivitas fisik. Sedikit berubah di bangku kuliah yang masih ditambal dengan kegiatan futsal angkatan. Tapi tetap, saya belum menyukai olahraga lari.
Ketertarikan saya terhadap olahraga lari di mulai pada tahun 2016an. Pada saat itu mulai booming event di lari di kota kembang tercinta ini. Dalam pikiran, “seperti asik nih kalua lari bareng2”, “lagipula medal yang disediain panitianya juga bagus2x. jadi ingin”.  Lalu, ikutlah saya dalam salah even lari masa tersebut.

---

Event pertama yang saya ikuti diselenggarakan oleh PT KAI Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2016. Di acara itu saya bertemu dengan Fajar (teman SMP) dan Seny (teman kuliah) yang ternyata hobi lari juga. Jaraknya yang harus di tempuh tidak terlalu jauh sebenarnnya – cuman 5K. Namun karena kondisi tubuh saya pada saat itu belum sebugar sekarang, jarak 5K rasanya seperti neraka, tapi saya tetap bisa menyelesaikan perlombaan (finish). Sayangnya, medali finisher yang sediakan panitia hanya 100 buah dan tentu saya tidak masuk di dalamnya.

Setelah itu, saya pun belang-betong (bolong-bolong/tidak konsisten) mengikuti event lari.  Jarak 5K masih terasa berat.

Kemudian di awal tahun 2018, ketemulah saya dengan Pradip yang baru menyelesaikan working holiday dari Australia. Kita pun berbincang dan ditemukanlah permasaan bahwa kita sama-sama menyukai olahraga lari. Kemudian kita pun saling berbagi pandangan dan pengalaman. Perbedaannya, Pradip konsisten dalam berlari sedangkan saya cuman per event saja.

Saya pun menceritakan rencana saya mengikuti Pocari Sweat Bandung Marathon 2018 dengan jarak 10K dan Borobudur Marathon 2018 dengan jarak 21K (HM). Lalu diajaklah saya gabung dengan komunitas RIOT (Running is Our Theraphy) Chapter Bandung.

Ada beberapa pertimbangan kenapa saya memutuskan untuk bergabung dengan komunitas lari. Pertama, sebagai support system – ini menjadi penting karena fluktuasi motivasi saya yang berlari berada di tingkat inkonsistensi yang tinggi. Kedua terkait hal pengalaman, saya menyadari bahwa saaya adalah pelari semula dan memerlukan ilmu yang benar dari mereka yang sudah mengetahui serta melakukannya.

Pertama kali saya bergabung dengan RIOT Bandung sekitar 1 bulan sebelum PSBM. Saya mendapatkan penerimaan yang hangat dari teman-teman RIOT Bandung. Di Bandung sendiri pada dasarnya memiliki tiga agenda  per minggunya; hari rabu (kemudian diubah menjadi hari selasa) jadwal Strenght and Conditioning, hari kamis fun/night run, sengkan hari sabtu atau minggu long run. Awal-awalnya terasa berat, apalagi waktu mengikuti program strength and conditioning yang dipimpin oleh coach Doni di Gor Padjadjaran. Di luar itu semua, saya percaya bahwa tidak ada latihan yang ringan dan berpikir “lebih baik habis di latihan, daripada payah di perlombaan”. Manfaatnya, tubuh saya menjadi lebih bugar dan sehat.

Di RIOT Bandung, bukan saja kebugaraan yang saya dapat namun juga pertemenan sehat. Meskipun komunitas lari, RIOT Bandung mengajarkan arti keluarga, kerjasama tim, dan perjuangan.

Mind set saya pun berubah terhadap olahraga lari. Dulu saya berpikir pesimis ketika akan menghadapi jarak 10K atau 21K. “Gila, ada yh orang mau lari dengan jarak sejauh itu”, pikir saya saat itu. Ketika sudah dijalani, 10K atau 21K adalah jarak yang mungkin ditaklukan oleh manusia. Memang perlu persiapan yang matang juga untuk menjalani itu. Tidak cukup modal nekat dan tekad.

RIOT Bandung Team For Borthon 2018


Di komunitas RIOT Bandung juga saya menemukan kesalahan masyarakat dalam memandang olahraga lari. Mayoritas masyarakat kita berpersepsi bahwa lari itu harus cepat – itu adalah keliru. Lari memiliki beberapa variannya, seperti sprint atau distance-running. Nah, kebanyakan dari masyarakat cenderung mengasosiasikan dengan yang pertama (penggunaan 80% tenaga), padahal kenyataanya tidak seperti itu. Saya baru mengatahui bahwa lari itu harus membuat kita nyaman. Kita memiliki pace yang berbeda satu sama lain. Maka berlarilah dengan pace kita masing-masing. Jika ingin meningkatkan kemampuan maka berlatihlah.  Intinya lari adalah tentang diri sendiri. Jangan bandingkan dengan orang lain, apalagi jika kamu pelari rekreasi.

Saya banyak berhutang terima kasih kepada teman2 RIOT Bandung, utamanya adalah Pradip (sebagai orang yang bertanggung jawab membawa saya ke RIOT), Capt Kinno, Moms Melisa, Babang Rony, Om Iki, dan para officers. Tanpa mereka saya tidak mungkin menekuni olahraga ini dan berusaha menembus batasan diri. Saat ini saya sedang mempersiapkan untuk mengikuti Maybank Bali Marathon 2018 dalam kategori 42KM (Full Marathon). Mohon doanya yh. Salam. 

Aros di Borthon 2018


(ars/ariefrosadi.com)
Read More

Friday, June 8, 2018

Caffee

Dia duduk di kursi bar kopi shop itu sendiri. 

Terlihat jelas dari kejauhan sosoknya. 


Dia. Cantik. Memakai pashmina terang. Bertubuh proporsional. Terkesan rohis, namun tidak bisa menyembunyikan aura modis.


Bar itu tidak terlalu tinggi sebagaimana bar-bar yang ada. 


Lagi pula itu adalah bar untuk caffee. Bukan tempat hiburan malam. 


Kursinya mudah untuk dijangkau. Sekitar 80cm dari permukaan lantai hingga bantalannya. Bar-nya pun tidak terlalu menjulang terlalu tinggi. Jika ditaksir kira2 ada 120cm. Terkapar juga beberapa lembar menu makanan dan minum di atasnya. Tak lupa ada mug tip untuk pelayan yang bertuliskan "modal kawin".


Di bar itu terdapat dua kursi. Satu di isi oleh perempuan itu. Menyisakan sisanya sebagai wilayah tak bertuan. 


Ada hasrat yang mendorong diri ini berkenalannya dia. Si cantik jelita itu.


Suka ? ntahlah. Aku pun tak begitu yakin apakah aku memang suka. 


Toh dia baru hari itu aku temui. Bagaimana bisa aku bisa menyukai seseorang jika tidak tahu baik-buruknya.


Cinta ? apalagi itu. Dia adalah kata yang penafsirannya tak terhingga. Tidak bisa hanya dibingkai dalam hubungan antar dua jenis kelamin berbeda. Atau dibatasi dalam kisah romansa. Bahkan, hingga detik ini para filsuf, pujangga, dan khayalak masih memperdebatkannya. Dia pun tak bisa dilihat hanya sebagai aktivitas persenggamaan, meskipun itu adalah salah satu turunannya.


Ah. Mari kita melewati bagian tadi. Yang membosankan. Yang fokus akan diri dan pemikiran-pemikiran tak terarah. Lagi pula cinta terlalu absurd untuk dibicarakan.


Mungkin padanan yang tepat adalah tertarik. Aku tertarik pada dia. Seperti dua kutub yang saling berlawanan. Dia menarik atensiku. Dia menarik pandanganku. Dia menarik jiwaku. Mendorong diriku untuk selalu memandangnya.


Jelita. Bersinar. Cantik. Soleh. Cerdas. Itu adalah kesanku tetang dia. 


Tapi hanya cukup menikmati kesan saja ? 


Kesan bisa menjadi angan. 


Dia adalah fantasi liar awal tentang seseorang. Bisa jadi benar. Tak menutup kemungkinan untuk salah. 


Itu adalah lumrah. Sebagaimana khalayak yang keliru menafsirkan kesan tentang politisi dan selebriti. 


Mereka itu berkesan demikian karena tuntutan. Lingkungan dan panggung mereka mengharuskan begitu. 


Semua tindakan mereka adalah bentuk setia atau terpaksa terhadap peran sosial. Bisa juga diri yang hadir dalam tubuh mereka menjadi peran dan menjadi inti. begitu juga dapat terjadi sebaliknya - vice versa.


Lantas bagaimana aku harus bersikap terhadap perempuan yang duduk di kursi bar itu. 


Haruskah kuamini kesannya ? Jika ia. Maka aku tidak berlaku adil. 


Lah ? Adil untuk siapa ? 


Untukku ? 


Atau penilaian kesannya dariku ? 


Aduh. Kok jadi rumet. Kenapa pula aku harus memikirkan itu semua ? 


lagi pula adil itu seperti ? 


Banyak yg berbicara tentang adil tapi tidak sedikit yang tidak tahu barang itu. 


Memangnya aku tahu ? 


Aku harus jujur. Setahuku barang itu hanya muncul di pengadilan dan hakim membuat keputusan. 


Di persidang itu hakim membuka perkara dan berusaha menjelaskan posisi jelas dari perkara tersebut. 


Lalu, jika dirasa sudah terang benderang dia memberi penghakiman. 


Ok. Mari balik lagi ke masalah yg kupikirkan dari tadi. 


Bisakah aku adil kepada dia ? yah. dia. 


Perempuan yang berperkara dalam pikiranku. 


Mengusik ketenangan batinku. 


Menggiring jiwaku kepada dirinya dengan daya tarik yang dia miliki. 


Kuyakin dia tak bermaksud untuk berbuat demikian. 


Tapi bisa juga aku salah, ada peluang dia berbuat demikian dalam pikiran atau dalam rasa malu yang dia sembunyikan.


Jujur. Boleh aku jujur ? Tentu boleh. harus malah. Apalagi jika jujur terhadap diri sendiri. Wajib hukumnya. Klo untuk orang lain mungkin bisa sedikit walau berdosa. 


Ia. Itu dusta. Walau sedikit tetap saja berdosa. Ah. Sudahlah. Jujur saja.


Klo memungkinkan aku ingin melewati luapan pikiran-pikiran di atas. Langsung pada kesimpulan. 


Lah ? Apa yang disimpulkan ? Mungkin hrsnya pada suatu tindakan. Tapi apa daya. Pikiranku ini memang liar. Tak terkekang oleh keterbatasan rangkaian Aksara. Dia terus berspekulasi kemana-kemari. Mencari jawaban atas pertanyaan. Mencari kejelasan atas ketidaktahuan. 


Hasrat akan sebab-akibat ini hrs terpenuhi.


Dia. Perempuan yang berperkara dengaku ini harus diadili. Asumsiku tentang harus dibuktikan. Dengan kebenaran ataupun kekeliruannya. Tak ada jalan lain selain menyelami kepribadiannya. 


Dia, si jelita yang ada di bar itu.


aku pun mengumpulkan keberanian.


Harus duduk di sebelahnya. Harus berkenalan dengannya. Harus mengetahui kepribadiannya. Harus berlaku adil terhadapnya. 


Itu adalah niat-niat yang kutanamkan.


Kemudian, kaki ini beranjak dari tempat duduk. 


Perlahan bergerak. langkah demi langkah terasa berat. Seakan dunia berada dalam mode lambat. 


Jantung pun tak ingin melepas kesempatan ini. Dia berdetak tak seperti biasa. Kencang. Melebihi tempo biasanya. 


Ya Tuhan. Perasaan apa ini ? 


Sungguh menyiksa. 


Tapi aku ingin tahu. 


Penasaranku tak bisa terbendung. 


Harus disalurkan.


Lalu kaki ini berhenti tepat di sebelah kursi bar itu. 


Kemudian bibir meluncurkan kata. 


"sorry, kursi ini kosong ? boleh duduk di sini ?".



----------


Dago.

6 Juni 2018.

(ariefrosadi.com/aros)
Read More

Wednesday, August 9, 2017

Thursday, July 27, 2017

Satu Dekade Zero Sette: Kenangan dan Catatan

Foto Angkatan 2007 di BGG Jatinangor

2007

Saya masih sedikit ingat apa yang terjadi ketika saya masuk HI UNPAD pada tahun 2007. Pada saat itu merupakan periode peralihan dari SMA menjadi mahasiswa. Ada yang beda. Itu pasti, karena lingkungan yang saya hadapi berbeda ketika masih memakai seragam putih abu-abu.

Jika lingkungan pada SMA cenderung homogen, seperti didominasi oleh mayoritas Sunda, perbedaan ekonomi yang tidak terlalu jomplang, pergaulan dan ketertarikan yang cenderung sama (suka musik Indie/rock n' roll misalnya). Maka dunia mahasiswa/dunia awal memasuki kehidupan nyata mutlak berkarakteristik heterogen. Perbedaan adalah hal yang lumrah. 

Ada kekhawatiran menghadapi kenyataan itu. Saya harus menerima lingkungan baru yang suka tidak suka mengharuskan saya berinteraksi dengan teman-teman berbeda latar belakang. Bukan hanya perbedaan suku, namun juga agama, pandangan politik, status sosial, dan kemampuan ekonomi.

Boleh dikatakan pada saat itu saya menganggap bahwa HI UNPAD 2007 seperti miniatur Indonesia. Memang tidak semua suku yang ada di Indonesia ada perwakilannya di HI UNPAD 2007, namun hampir setiap wilayah bagian Indonesia ada perwakilannya. Dimulai dari orang Padang, Batak, Sunda, Jawa, Bali, Kalimantan, Tionghoa, hingga Papua.

Hal yang pertama saya rasakan ketika berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda latar tersebut adalah takut. Mungkin karena sebelumnya telah menerima streotipe tertentu tentang suku tertentu. Saya kira mereka pun memiliki perasaan yang demikian, sudah memilliki praduga tentang suku Sunda.

Namun, ketika berinteraksi dengan teman-teman baru HI UNPAD 2007, praduga tersebut tidak selalu benar. Hal yang saya pelajari adalah orang yang berbicara dengan suara keras tidak selalu ganas, juga orang yang berbicara lemah lembut tidak selalu memiliki perasaan takut. Saya kira semua itu adalah hasil konstruksi pembentukan dari budaya dan lingkungan masing-masing. Tapi ada hal yang pasti, saya banyak menemukan teman-teman yang baik, memiliki karakter, dan berintegritas. 

Itulah kesan awal saya terhadap teman-teman Zero Sette. Pada perjalanan tidak selalu mulus memang, ada konflik, drama, hingga romansa, namun karena itulah membuat petualangan kami lebih berwarna. 


Organisasi & Kepanitiaan (2008 - 2009)

Saya sedikit ingat ketika awal memasuki bangku kuliah ibu saya memberikan nasihat kurang lebih seperti ini, "Kamu fokus saja sama kuliah, jangan pacaran, jangan cari kerja. Fokus saja kuliah, lulus, kerja kemudian menikah". Ingin sekali menuruti nasehat bunda, namun apa daya godaan di dunia kampus tak kuasa saya bendung.

Ada kebebasan yang didapat ketika keluar dari bangku SMA. Ada keingintahuan tentang apa itu dunia. Pada masa awal-awal seringkali terjadi perbincangan dengan teman-teman MABA (Mahasiswa Baru) tentang apa yang harus dilakukan selama kuliah. Berbagai perspektif dikemukakan namun ada poin yang selalu dominan, "harus aktif diorganisasi".

Pada saat itu saya tidak terlalu memahami esensinya. Hal yang saya pikirkan adalah, "mungkin jika aktif di organisasi, itu akan menambah isian dalam CV saya kelak". Saya itu juga saya gagal membedakan antara organisasi dan kepanitiaan. Padahal dua hal tersebut sangat berbeda.

Ok. Pada awal semester saya mencari-cari organisasi yang cocok dengan karakter saya, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti HIMA HI & BEM FISIP. Keputusan saya memilih dua organisasi ini sebenarnnya cukup blunder juga mengingat saya berada pada transisi etos belajar dari siswa menjadi mahasiswa yang dihadapkan dengan tugas yang sangat banyak. Cukup stress memang menghadapi semua itu, disisi lain saya harus mengerjakan tugas dalam satu minggu sebanyak 10-20 halaman untuk satu mata kuliah saja, itu belum termasuk mata kuliah lainnya. Disisi lain, agenda program kerja organisasi pun yang menyita waktupun harus dipenuhi. Kemudian, pilihan saya yang tidak ngekost pun mengakibatkan saya harus pulang-pergi Jatinangor-Antapani setiap hari. Al-hasil, saya pun jatuh sakit.

Di luar itu, terdapat momen-momen yang cukup berharga bagi hidup saya.

Pertama akan saya bahas tentang HIMA HI. Kontribusi saya di HIMA HI sebenarnnya sangat-sangat kecil. Pada saat itu saya mendaftar di Departemen Infokom, namun ntah bagaimana ceritanya saya dipindahkan ke Departemen Olahraga. Intinya selama setahun itu saya dalam posisi gabut, ada memang program kerja, namun tidak berjalan efektif.

Hal yang paling berkesan di HIMA HI adalah saya menyaksikan kelahiran Symphonesia. Setelah diumumkannya hasil rekruitmen anggota BPH (Badan Pengurus Harian) HIMA HI, Teh Mel sebagai Ketua HIMA saat itu melalui kadep-kadepnya mengumpulkan semua anggota BPH, baik yang senior/junior dalam suatu Rapat Besar (saya lupa istilah pastinya). Masing-masing departemen memaparkan program kerja, lalu kemudian didiskusikan baik perihal anggaran maupun timeline kerjanya.

Pada pembahasan terdapat beberapa program kerja yang cukup beririsan dan memiliki anggaran yang cukup besar, bahkan ada yang di atas 100 juta. Oleh karena itu ada yang mengusulkan untuk menggabungkan program-program kerja tersebut dalam satu rangkaian acara yang dinamai Symphonesia (Symphony of Indonesia) dengan menunjuk Kang Rico 2006 sebagai Ketua Pelaksana yang akan diselenggarakan pada tahun 2008.

Pada prosesnya, persiapan Symphonesia cukup melelahkan pikiran dan tenaga. Pada acara itu, saya ditarik oleh Dennis masuk divisi Talk Show yang mengundang Tisna Sanjaya, Albertina Fransisca  Mailoa, dan Huala Adolf. Pada proses mengundang pembicaraan tidak ada kendala yang berarti, masalah muncul dari internal kepanitiaan itu sendiri, khususnya dari para petinggi. Ada ketidaksonsistensian ketika memutuskan hal-hal yang sifatnya teknis, seperti pemilihan cenderamata kepada pembicara/pemateri, alur pengamanan, penentuan siapa saja yang menjadi tamu undangan khusus, hingga penanganan jika terjadi kejadian yang terduga. Poin-poin yang disebutkan cukup menyita pikiran dan tenaga.

Secara keseluruhan acara berjalan cukup lancar, namun Dennis berkata lain.

Setelah itu saya pun memilih untuk pulang, walaupun masih ada rangkaian acara lain. Saya berpikir karena saya telah menunaikan kewajiban dan berencana kembali ke Sabuga pada malam harinya untuk mengikuti acara konser musik. Tapi rencana tinggal rencana. Ketika saya pulang, saya sangat kelelahan kemudian tidur terlelap. Sekitar jam 7 malam, Arief Adit, Pradip, dan Amy menelopon saya, "dimana rif? buruan sini udah rame nih", namun karena badan saya sangat lelah saya tidak terlalu antusias terhadap ajakan mereka, "sok aja, ngantuk euy". Sebenarnnya teman-teman berusaha membujuk untuk datang. tapi apa daya kemalasan saya lebih besar daripada kemauan saya.


Dokumentasi Symhponesia (2007 - 2014).


Besok paginya, teman-teman tadi bikin saya ngiri. Arief Adit berkata, "lebar maneh gk datang, padahal rame kamari". "bener-bener from zero to hero". Apa yang dikatakan oleh Arief Adit sangat berlasan mengigat penjualan tiket pada pra-event tidak memenuhi target yang seharusnya, bahkan 1/4 dari total tiket yang tersedia pun tidak. Jika saya tidak salah mengingat, para petinggi memutuskan untuk mencetak sekitar 4000-4500 tiket. Kemudian Arief Adit menceritakan bahwa keramaian pengunjung dimulai ketika selesai Salat Magrib, meskipun pada saat itu kondisi cuaca hujan dan dingin namun hal tersebut tidak mengurungkan antusias penonton untuk datang.

Setelah hari itu, Sypmhonesia menjadi acara tahunan HI UNPAD, dan puncaknya adalah ketika angkatan 2007 menjadi panitia intinya (acara dilaksanakan pada tahun 2009). Di atas saya lampirkan beberapa tiket Symphonesia dari masa ke masa, Mungkin pembaca bertanya, kenapa pada acara Symphonesia tahun 2009 saya tidak menampilkan tiket, namun hanya menampilkan selebaran promosi acaranya. Hal tersebut disebabkan tiket Symphonesia pada tahun 2009 sudah sold out bahkan sebelum hari H-nya.

Kedua adalah BEM FISIP UNPAD, berbeda dengan HIMA HI yang cenderung homogen, maka BEM FISIP sangat heterogen. Hampir semua mahasiswa jurusan yang ada di FISIP tergabung didalamnya. Pada tahun 2008 saya mendaftarkan diri di Departemen Kajian Sosial Politik (pada perkembangannya nama tersebut sering berubah-ubah meskipun subtansinya tetap fokus pada kajian). Kadepnya adalah Kang Reza Wahyu Anzaya, pertama kali ketemu dengan Kang Reza sangat identik dengan Aher- Ahamad Heryawan, Gubernur Jawa Barat. Hal tersebut bisa dilihat dari kontur muka yang tipikal. Mungkin perbedannya terletak pada rambut Kang Reza yang lebih klimis karena efek minyak rambut.

Bagi Kang Reza, menjalankan KSP tidak hanya sebagai menjalankan program kerja atau dalam bahasanya hanya sebagai event organizer. Dalam visinya, anggota KSP harus memiliki karakter, maka tidak heran jika selama dalam asuhannya kami (Arief Adit, Z, Dadan, Solpa, dan Widy) baik langsung ataupun tidak langsung dikader oleh beliau.Di luar kadep, Kang Reza pun aktif sebagai kader HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Kondisi di BEM hampir terbalik dengan kondisi saya di HIMA HI. Jika di HIMA HI saya gabut, maka di BEM saya benar-benar sibuk. Banyak program yang dicanangkan, tapi itu buka sebagai retorika tapi juga program yang nyata. Setiap minggu dan setiap kami memiliki acara yang disebut kajian mingguan dan kajian bulanan. Memang tanggungjawab utamanya bukan saya, tapi Widy. Namun, mau tidak mau saya pasti terlibat dalam kepanitiannya. Selain itu, setiap minggu Kang Reza juga menanyakan progres persiapan yang dipegang oleh setiap anggota. Kebetulan pada saat itu saya pegang acara Debat Logika Se-FISIP UNPAD.

Diantara semua departemen yang ada di FISIP UNPAD, hanya KSP dibawah pimpinan Kang Reza yang benar-benar hidup. Bahkan saking hidupnya, semua anggota KSP dekat dengan Kang Maul (Ketua BEM). Hingga suatu ketika, di akhir kepengurusan, diselenggarakanlah libur bersama semua Anggota BEM dan pada saat itu memang jadwalnya tidak sinkron, hampir semua anggota KSP tidak ikut. Hal tersebut mengundang komentar dari Kang Maul "Saya tidak ridho kalau kalian tidak ikut, kalian yang paling banyak kerja tapi kalian yang tidak ikut liburan". Tapi keputusan kami sudah final karena memang ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan.

Selain BEM dan HIMA HI, sebenarnnya banyak kepanitiaan yang saya ikuti. Pada dasarnya masih dibawah kegiatan kedua organisasi itu juga. Hal tersebut terjadi karena, saya dan teman-teman menjalin hubungan yang baik dengan sesama anggota organisasi. Al-hasil sering sering terjadi 'tarik-menarik' kepanitiaan. Sebut saja, Cinta Oma 1 & 2 (Acara Depsos HI), HI Goes to School (acara Penjar HI), dll.

Di luar itu juga saya terlibat dalam kegiatan PPKMB (Program Pengembangan Kreativitas Mahasiswa Baru), sebuah nama pengganti OSPEK. Saya memilih divisi Medik/IRMA (International Relations Medical Team). Selama dua tahun hampir setiap minggu saya berlatih dengan anggota lainnya. Pada tahun pertama (2008) sebagai anggota, tahun kedua (2009) sebagai koordinator. Di tahun kedua, kegiatan sangat padat. Setiap minggu Pak Ketua Panitia - Mufli, selalu meminta rakor (rapat koordinator) guna membahas progres persiapan. Pernah suatu waktu, saya berbincang dengan Riri, Riki, Fahmi dan Solpa dalam acara makan santai, "mending kita buka EO aja yuk, kagok edan racing team (cadaan anak muda pada saat itu) ini".

Celetukan tersebut bukan hana sebuah candaan, tapi juga memiliki dasar pengalaman mengingat selama dua tahun itu fokus utama kami memang membuat kegiatan. Padat memang, tapi kami mampu memenej waktu dan tenaga seefisien mungkin.

Selama dua tahun itu saya bertanya, "apa yang saya dapat?". Setiap minggu pasti ada rapat, pulang malam, lelah badan, dan ada waktu bermain yang banyak dikorbankan. Tapi ada manfaat yang saya rasakan secara tidak langsung, yakni meningkatnya kemampuan menejerial. Sering berpikir berpikir bahwa kerja yang terbaik adalah berada di top management. Pandangan tadi tidak sepenuhnya benar, tapi tidak sepenuhnya salah juga.

Berada pada posisi atas memberikan pemegang amanah tunjangan yang besar dan status sosial yang lebih tinggi, namun kerja adalah performa. Posisi di atas tidak menjamin performa menjadi bagus, itu tergantung dari kemampuannya individu. Kerja adalah menjalankan peran secara optimal dalam organisasi, ntah bertanggungjawab atas keseluruhan acara, kesekertariatan, konsumsi, logistik, atau hubungan masyarakat. Itu harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Drama, Konflik, dan Politik (2009 - 2010)
(Pending dulu)

Bimbingan: Langkah Awal Menjadi Intelektual (2010 - 2012)

Layaknya mahasiswa semester akhir, maka saya pun mulai menjalani proses penyusunan skripsi. Tema yang saya ambil adalah diplomasi publik dengan objek penelitian - Festival Sinema Perancis (FSP). Proses pemilihan tersebut tidak tergolong unik, saya memilihnya karena kajian diplomasi publik sedang booming. Adapun dijadikan Perancis sebagai objek kajian atas pilihan acak.

Pada suatu masa, di penghujung semester tujuh, teman-teman satu angkatan sudah mengajukan judul peneliti. Bahkan sudah ada yang mengajukan Usulan Penelitian. Saat itu, saya pada posisi bingung. Teman dekat saya mengatakan, "cari aja topik yang kamu suka". Arahan bijak tersebut tetap tidak memberikan pencerahan, karena pada saat itu saya memilih jurusan HI (walau pada akhirnya menerima dan bergelut di sana) sebagai bagian 'kecelakaan'.Saya pribadi lebih bersemangat membahas politik lokal/nasional (pada saat itu jurusan Politik belum ada di UNPAD). Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur dan tidak mungkin juga saya harus pindah kampus.

Memasuki akhir tahun saya belum menemukan topik dan objek yang akan diteliti. Saya pun memutuskan untuk melupakannya sejenak dengan mengunjungi bioskop di salah satu pusat perbelanjaan yang bertempat di kawasan Merdeka - Bandung. Ada yang menarik ketika saya sedang antri di loket pembelian tiket bioskop. Tidak sampai sepuluh meter dari tempat itu, terdapat stand loket tersendiri yang disebelah mejanya terdapat stand banner bertulisan "Festival Sinema Perancis"/FSP. Setelah saya membeli tiket bioskop, saya menghampiri stand loket tadi. Kemudian bertanya-tanya kepada sang penjaga perihal kegiatan, pendanaan, hingga penyelengaraannya. Singkat kata, acara tersebut akan dijadikan oleh saya sebagai objek penelitian.

Dalam mengkaji FSP ini, saya berada di bawah bimbingan Ibu Junita Budi Rahman (Ibu Nita) dan Ibu Viani Puspitasari (Teh Viani). Hal tersebut dikarenakan Ibu Nita hirauan terhadap kajian-kajian budaya dalam Hubungan Internasional, sedangkan Teh Viani hirauan terhadap kajian-kajian yang secara subtansial berhubungan dengan Perancis. Namun, pada proses penyusunan tugas akhir itu, saya lebih besar porsinya dengan  Ibu Nita. Tujuannya untuk menguatkan logika dan fondasi berpikir saya dalam memahami dan menafsirkan dunia.

Ketika bimbingan dengan Ibu Nita, saya tidak sendiri. Ada juga teman-teman 2007 lainnya, seperti Bima, Febe, Feby, Iffa, Seny, dan Riki - yang kemudia membentuk genk soft-text. Penamaan kelompok tersebut didasarkan hampir semua bimbingan Ibu Nita yang angkatan 2007 menggunakan konsep soft power dan fokus pada anlisis textual.

Hampir setiap bimbingan kita selalu bersama. Adanya kebersamaan dapat ditafsirkan sebagai bentuk kerjsama dan dukungan moral terhadap satu sama lain. Metode yang digunakan Ibu Nita dalam membimbing anak-anaknya dapat dikatakan berbeda. Jika dosen lain ketika membimbing lebih mendekatkan pada perintah instruktif, "harus menggunakan teori ini", "harus mengkaji objek ini". Maka Ibu Nita mengarahkan pada proses penalaran yang mendalam dan cenderung berpikir filosofis, "Kenapa harus menggunakan teori ini, tidak itu?", "Aspek apa yang akan kamu teliti dalam peneliti kamu?", "Signifikansinya apa sampa harus diteliti ?".

Pada proses itu, Ibu Nita jarang memberikan jawaban. Lebih sering mengarahkan kami untuk baca buku ini atau baca artikel jurnal itu. Konsekuensinya adalah kami para pembelajar harus menguasai materi-materi yang disarankan. Pencarian bahannya pun kadangkala tidak semua berasal dari beliau. Kadang beliau hanya memberikan petunjuk dan disitulah kami bereksplorasi dengan militan untuk menemukan bahan yang dimaksud.

Selama bimbingan, saya tidak menyadari bahwa poin yang ditekankan beliau adalah memahami state of the art dari HI itu sendiri. Sebagai disiplin, HI dapat ditafsirkan sebagai kajian yang unik. Pembentukannya didasarkan pada tiga disiplin ilmu; Sejarah (Diplomatik), Filsafat (Politik), dan Hukum (Internasional).

Hal tersebut belum termasuk perkembangannya yang banyak mengadopsi pendekatan eksakta dan perspektif ilmu-ilmu sosial, seperti pendekatan tingkat laku, teori permainan, dinamika sistem, teori pilihan rasional, posmodernisme, postrukturalisme, poskolonialisme, hingga teori hijau. Maka, jika mengkaji sejarah perkembangan studi HI akan terlihat rentetan perdebatan antar penstudi yang dikenal dengan The Great Debates.

Ibu Nita menenkan jika ingin memahami dan menggunakan suatu pemikiran, penstudi hari memahami pemikiran yang mendasarinya. Sumber rujukannya pun harus berasal dari sang pemikir langsung. Sebagai contoh, karena saya akan mengkaji tentang film, maka saya berencana menggunakan pendekatan posmodernisme-nya James Der Derian. Konsekuensinya, saya harus membaca bukunya dengan judul Internatonal/Intertextual Relations: Postmodern Readings of a World Politics. Tidak hanya itu, saya selaku penstudi pun harus membaca pemikiran yang menjadi latar lahirnya posmodernisme dalam studi HI. Dalam konteks penelitian, saya harus membaca buku Empire of Signs, karya Roland Barthes.

Membaca karya yang dianggap sudah mapan dalam disiplin HI dan karya yang menjadi inspirasinya ditujukan untuk melihat proses pembangunan teori (theory building). Ntah pada tingkat peminjaman (to borrow), adopsian (to adopt), atau penerapan (to apply). Sangat kental akan filsafat ilmu, tapi yah begitu kenyataannya. Kemudian dilihat juga bagaimana penggunaan konsep yang digunakan dari kedua pemikir tersebut dalam bidangnya masing-masing. Dilihat juga,di mana persamaannya dan di mana perbedaannya. Hingga pada akhirnya, saya punya argumentasi dan berani mengambil keputusan untuk menggunakan pendekatan tersebut.

Rentetan berpikir seperti itulah selalu ditanyakan oleh Ibu Nita. Maka tidak heran, jika teman-teman soft-text sering bertukar pikiran atau brain stroming. Selain menguatkan proses berpikir, selama masa bimbingan saya pun mendapat pelajar berharga tentang menulis. Pada tahapan ini, Ibu Nita mengarahkan kami kepada Kang Jawot 2005 untuk belajar menulis. Saya ingat hal penting yang diungkapkan Kang Jawot tentang menulis.

Kurang lebih seperti ini, "Hal yang menarik dalam suatu tulisan adalah paragraf pertama dan hal utama dari paragraf pertama adalah kalimat pertama. Kalau bisa paragraf pertama benar-benar mencerminkan judul penelitian. Tidak perlu dalam paragraf pertama mengatakan 'studi penelitian adalah bla bla bla'. Ngapain ? toh yang ngujinya juga penstudi HI, pasti lebih tahu dari kita. Mereka-mereka kan sudah Professor dan Doktor, minimal master-lah.".

"Lagipula, jika orang awam baca yang akan dilihat itu tentang fenomena dan objek penelitiannya bukan tentang pemahaman kita terhadap HI. Kalau paragraf dan kalimat pertama tidak menarik, jarang yang mau lanjut baca ke halaman-halaman berikutnya". Contohnya bisa dilihat di bawah ini: Paragraf pertama dari skripsi saya dengan judul "Diplomasi Pencitraan Perancis melalui Festival Sinema Perancis di Indonesia tahun 2011".

"Aktivitas diplomasi publik yang dilakukan oleh suatu negara memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar negeri untuk ikut terlibat di dalamnya. Namun, disadari tau tidak, diplomasi publik tersebut memuat nilai-nilai ideologi tertentu yang ingin disampaikan negara kepada masyarakat luar negeri. Nilai-nilai tersebut diproyeksikan melalui citra - diplomasi pencitraan. Salah satu medianya adalah film melalui festival sinema yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Diplomatik Negara tersebut." (Rosadi, 2013: 1)

Saya kira ketika orang membaca tulisa di atas. Mereka dapat langsung menafsirkan bahwa tulisan saya akan membahas tentang diplomasi publik yang memiliki ideologi tertentu yang penyampaiannya dilakukan melalui penyelenggaraan festival sinema. Dan itu penting, setidaknya dapat membuat orang tertarik dan fokus pada pembahasan. Kemudian, Kang Jawot juga memberikan saran untuk satu paragraf memuat satu ide. Kemudian disusunlah ide-ide tersebut dalam alur yang sistematis hingga mengerucut pada ide yang menjadi tujuan utama tulisan.

Bagi saya pribadi, menulis sebenarnnya bukan hal yang baru. Sejak 2009 saya sudah blogging, meskipun banyak sekali tulisan yang harus dihapus karena suatu hal dan lain-lain (hampir 98%). Namun, dengan saran Kang Jawot, setidaknya tulisan saya lebih tertata dan mengalir. Singkatnya menulis itu bukan hanya aktivitas motorik, namun juga kreatif dan kognitif. Dua hal yang terakhir adalah intinya.

Kembali ke inti bagian tulisan ini. Saya melihat apa yang dilakukan Ibu Nita kepada anak-anak bimbingannya adalah untuk mengubah pola pikir peneliti Indonesia yang cenderung user, bukan developer. Bukan pertanyaan, "Apakah konsep ini HI atau tidak HI", tapi "Bagaimana konsep ini berguna, digunakan, dan dapat diterima dalam HI". Memang terlalu dini untuk kami, tingkat sarjana membuat pemikiran yang menerabas kemandekan studi HI. Tapi setidaknya, pola pikir, metode awal, dan mental itu berhasil ditanamkan kepada kami.

Seperti yang pernah Ibu Nita wejangkan kepada pada follower-na di Twitter dengan mengutip pepatah dalam Bahasa Inggris.


"Never be afraid to try something new. Remember, amateurs (undergraduate) built Ark, Professionals built Titanic."




Dari kiri ke kanan : Bima, Aki, dan Aros.




Menghadiri Makrab Angkatan 2011.
Dari kiri ke kanan: Nizar, Aros, Robi, Iya, Z, Ami, Hilda, dan Aki.

/



Noted: foto lain dan deskripsinya akan segera menyusul.
Read More