28 Tahun (Refleksi Tentang Quarter Life Crisis)

1:51 PM 0 Comments

Ilustrasi: Quarter Life Crisis.

Tidak pernah saya membuat catatan tentang momen ulang tahun. Mungkin karena keluarga saya berpandangan bahwa momen ulang tahun bukanlah peristiwa yang signifikan. Itupun cukup berpengaruh kepada diri saya.

Sejak lahir sampai sekarang (28 tahun), jarang sekali saya merasakan momen perayaan satu tahunan tersebut. Saya lupa persisnya, tapi sedikitnya keluarga kami sempat menggelarnya dua sampai empat kali. Itu pun bukan merayakan hari kelahiran saya.

Bagi saya pribadi, 28 tahun bukan hanya rentang waktu saya hidup. Namun juga momen yang tepat (atau bisa juga disebut terlambat) untuk merefleksikan diri.

Pandangan umum mengatakan bahwa rentang umur 25 hingga 30 adalah masa-masa kritis kehidupan seseorang. Quarter life Crisis.

Jujur saya sedang mengalami kondisi seperti itu dalam beberapa satu tahun terakhir ini. (25 Tanda Quarter Life Crisis).

Ada keraguan dan ketidakyakinan atas jalan yang telah dipilih dan proses sedang dijalani. Ntah urusan personal ataupun profesional.

Sering muncul pertanyaan "apakah saya memang ingin memilih jalan ini?", "apakah ini jalan yang terbaik bagi saya ?", "Bagaimaa saya mengetahui bahwa pilihan ini adalah yang terbaik ?", "Bagaimana saya mengetahui bahwa ini bukanlah pilihan yang buruk/terburuk".

Saya memahami bahwa apapun yang sedang, akan, atau hal yang akan saya lanjutkan tidaklah akan mudah. Saya pun sangat memahami itu. Sebagaimana yang dikatakan oleh R.M.P Sosrokartono.

"Mau rajin atau malas. hidup memang sulit".

Tapi untuk mendapatkan kepastian adalah sesuatu yang cukup sulit. Walaupun bukan hal yang mustahil.

Sering saya berbagi pandangan tentang proses hidup ini dengan beberapa sahabat, seperti Mas Arief, Kang Pradip, juga Kang Aki.

Kang Pradip berkata bahwa apa yang sedang saya alami adalah bentuk kejenuhan. Pertemuan pada titik tersebut merupakan hal yang wajar dialami oleh manusia.

Pandangan berbeda dikeluar oleh Kang Reza. Menurutnya, apa yang sedang alami harus diselesaikan melalui kegiatan piknik. Kang Reza atau yang dikenal dengan sapaan Aki (Kakek), menuturkan bahwa saya harus sering-sering beraktivitas di luar rumah agar kejenuhan yang dirasakan tidak bertambah parah.

Mungkin apa yang dikatakan Kang Reza ada benarnya. Toh, selama ini saya memang terlalu fokus di wilayah Jawa Barat sehingga kerapkali kurang memanjakan kebutuhan akan hiburan. Seperti berpergian ke luar negeri misalnya.

Sedangkan Mas Arief yang akrab dipanggil Aboy cenderung mengingatkan saya tentang proses yang pernah dan sedang saya lakukan "sayanglah kalau harus berhenti di tengah jalan, mas kan udah (melakukan) ini juga itu".

Keraguan yang saya rasakan secara perlahan mulai hilang setelah mendapatkan masukan dari sahabat-sahabat saya.

Saya harus mengakui bahwa tidak ada kepastian dalam setiap proses dan pilihan.

Yah.. Perjalanan ini adalah seni, bukan eksakta. Setiap momen kita berefleksi, setiap kesempatan kita berkreasi.
Akhir kata, refleksi 28 tahun mengarahkan pada kepastian "tidak ada yang pasti, suka atau tidak suka akan tetap dan harus dijalani sampai ajal nanti".

(ariefrosadi.com/ars).

0 komentar: