Thursday, July 27, 2017

Satu Dekade Zero Sette: Kenangan dan Catatan

Foto Angkatan 2007 di BGG Jatinangor

2007

Saya masih sedikit ingat apa yang terjadi ketika saya masuk HI UNPAD pada tahun 2007. Pada saat itu merupakan periode peralihan dari SMA menjadi mahasiswa. Ada yang beda. Itu pasti, karena lingkungan yang saya hadapi berbeda ketika masih memakai seragam putih abu-abu.

Jika lingkungan pada SMA cenderung homogen, seperti didominasi oleh mayoritas Sunda, perbedaan ekonomi yang tidak terlalu jomplang, pergaulan dan ketertarikan yang cenderung sama (suka musik Indie/rock n' roll misalnya). Maka dunia mahasiswa/dunia awal memasuki kehidupan nyata mutlak berkarakteristik heterogen. Perbedaan adalah hal yang lumrah. 

Ada kekhawatiran menghadapi kenyataan itu. Saya harus menerima lingkungan baru yang suka tidak suka mengharuskan saya berinteraksi dengan teman-teman berbeda latar belakang. Bukan hanya perbedaan suku, namun juga agama, pandangan politik, status sosial, dan kemampuan ekonomi.

Boleh dikatakan pada saat itu saya menganggap bahwa HI UNPAD 2007 seperti miniatur Indonesia. Memang tidak semua suku yang ada di Indonesia ada perwakilannya di HI UNPAD 2007, namun hampir setiap wilayah bagian Indonesia ada perwakilannya. Dimulai dari orang Padang, Batak, Sunda, Jawa, Bali, Kalimantan, Tionghoa, hingga Papua.

Hal yang pertama saya rasakan ketika berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda latar tersebut adalah takut. Mungkin karena sebelumnya telah menerima streotipe tertentu tentang suku tertentu. Saya kira mereka pun memiliki perasaan yang demikian, sudah memilliki praduga tentang suku Sunda.

Namun, ketika berinteraksi dengan teman-teman baru HI UNPAD 2007, praduga tersebut tidak selalu benar. Hal yang saya pelajari adalah orang yang berbicara dengan suara keras tidak selalu ganas, juga orang yang berbicara lemah lembut tidak selalu memiliki perasaan takut. Saya kira semua itu adalah hasil konstruksi pembentukan dari budaya dan lingkungan masing-masing. Tapi ada hal yang pasti, saya banyak menemukan teman-teman yang baik, memiliki karakter, dan berintegritas. 

Itulah kesan awal saya terhadap teman-teman Zero Sette. Pada perjalanan tidak selalu mulus memang, ada konflik, drama, hingga romansa, namun karena itulah membuat petualangan kami lebih berwarna. 


Organisasi & Kepanitiaan (2008 - 2009)

Saya sedikit ingat ketika awal memasuki bangku kuliah ibu saya memberikan nasihat kurang lebih seperti ini, "Kamu fokus saja sama kuliah, jangan pacaran, jangan cari kerja. Fokus saja kuliah, lulus, kerja kemudian menikah". Ingin sekali menuruti nasehat bunda, namun apa daya godaan di dunia kampus tak kuasa saya bendung.

Ada kebebasan yang didapat ketika keluar dari bangku SMA. Ada keingintahuan tentang apa itu dunia. Pada masa awal-awal seringkali terjadi perbincangan dengan teman-teman MABA (Mahasiswa Baru) tentang apa yang harus dilakukan selama kuliah. Berbagai perspektif dikemukakan namun ada poin yang selalu dominan, "harus aktif diorganisasi".

Pada saat itu saya tidak terlalu memahami esensinya. Hal yang saya pikirkan adalah, "mungkin jika aktif di organisasi, itu akan menambah isian dalam CV saya kelak". Saya itu juga saya gagal membedakan antara organisasi dan kepanitiaan. Padahal dua hal tersebut sangat berbeda.

Ok. Pada awal semester saya mencari-cari organisasi yang cocok dengan karakter saya, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti HIMA HI & BEM FISIP. Keputusan saya memilih dua organisasi ini sebenarnnya cukup blunder juga mengingat saya berada pada transisi etos belajar dari siswa menjadi mahasiswa yang dihadapkan dengan tugas yang sangat banyak. Cukup stress memang menghadapi semua itu, disisi lain saya harus mengerjakan tugas dalam satu minggu sebanyak 10-20 halaman untuk satu mata kuliah saja, itu belum termasuk mata kuliah lainnya. Disisi lain, agenda program kerja organisasi pun yang menyita waktupun harus dipenuhi. Kemudian, pilihan saya yang tidak ngekost pun mengakibatkan saya harus pulang-pergi Jatinangor-Antapani setiap hari. Al-hasil, saya pun jatuh sakit.

Di luar itu, terdapat momen-momen yang cukup berharga bagi hidup saya.

Pertama akan saya bahas tentang HIMA HI. Kontribusi saya di HIMA HI sebenarnnya sangat-sangat kecil. Pada saat itu saya mendaftar di Departemen Infokom, namun ntah bagaimana ceritanya saya dipindahkan ke Departemen Olahraga. Intinya selama setahun itu saya dalam posisi gabut, ada memang program kerja, namun tidak berjalan efektif.

Hal yang paling berkesan di HIMA HI adalah saya menyaksikan kelahiran Symphonesia. Setelah diumumkannya hasil rekruitmen anggota BPH (Badan Pengurus Harian) HIMA HI, Teh Mel sebagai Ketua HIMA saat itu melalui kadep-kadepnya mengumpulkan semua anggota BPH, baik yang senior/junior dalam suatu Rapat Besar (saya lupa istilah pastinya). Masing-masing departemen memaparkan program kerja, lalu kemudian didiskusikan baik perihal anggaran maupun timeline kerjanya.

Pada pembahasan terdapat beberapa program kerja yang cukup beririsan dan memiliki anggaran yang cukup besar, bahkan ada yang di atas 100 juta. Oleh karena itu ada yang mengusulkan untuk menggabungkan program-program kerja tersebut dalam satu rangkaian acara yang dinamai Symphonesia (Symphony of Indonesia) dengan menunjuk Kang Rico 2006 sebagai Ketua Pelaksana yang akan diselenggarakan pada tahun 2008.

Pada prosesnya, persiapan Symphonesia cukup melelahkan pikiran dan tenaga. Pada acara itu, saya ditarik oleh Dennis masuk divisi Talk Show yang mengundang Tisna Sanjaya, Albertina Fransisca  Mailoa, dan Huala Adolf. Pada proses mengundang pembicaraan tidak ada kendala yang berarti, masalah muncul dari internal kepanitiaan itu sendiri, khususnya dari para petinggi. Ada ketidaksonsistensian ketika memutuskan hal-hal yang sifatnya teknis, seperti pemilihan cenderamata kepada pembicara/pemateri, alur pengamanan, penentuan siapa saja yang menjadi tamu undangan khusus, hingga penanganan jika terjadi kejadian yang terduga. Poin-poin yang disebutkan cukup menyita pikiran dan tenaga.

Secara keseluruhan acara berjalan cukup lancar, namun Dennis berkata lain.

Setelah itu saya pun memilih untuk pulang, walaupun masih ada rangkaian acara lain. Saya berpikir karena saya telah menunaikan kewajiban dan berencana kembali ke Sabuga pada malam harinya untuk mengikuti acara konser musik. Tapi rencana tinggal rencana. Ketika saya pulang, saya sangat kelelahan kemudian tidur terlelap. Sekitar jam 7 malam, Arief Adit, Pradip, dan Amy menelopon saya, "dimana rif? buruan sini udah rame nih", namun karena badan saya sangat lelah saya tidak terlalu antusias terhadap ajakan mereka, "sok aja, ngantuk euy". Sebenarnnya teman-teman berusaha membujuk untuk datang. tapi apa daya kemalasan saya lebih besar daripada kemauan saya.


Dokumentasi Symhponesia (2007 - 2014).


Besok paginya, teman-teman tadi bikin saya ngiri. Arief Adit berkata, "lebar maneh gk datang, padahal rame kamari". "bener-bener from zero to hero". Apa yang dikatakan oleh Arief Adit sangat berlasan mengigat penjualan tiket pada pra-event tidak memenuhi target yang seharusnya, bahkan 1/4 dari total tiket yang tersedia pun tidak. Jika saya tidak salah mengingat, para petinggi memutuskan untuk mencetak sekitar 4000-4500 tiket. Kemudian Arief Adit menceritakan bahwa keramaian pengunjung dimulai ketika selesai Salat Magrib, meskipun pada saat itu kondisi cuaca hujan dan dingin namun hal tersebut tidak mengurungkan antusias penonton untuk datang.

Setelah hari itu, Sypmhonesia menjadi acara tahunan HI UNPAD, dan puncaknya adalah ketika angkatan 2007 menjadi panitia intinya (acara dilaksanakan pada tahun 2009). Di atas saya lampirkan beberapa tiket Symphonesia dari masa ke masa, Mungkin pembaca bertanya, kenapa pada acara Symphonesia tahun 2009 saya tidak menampilkan tiket, namun hanya menampilkan selebaran promosi acaranya. Hal tersebut disebabkan tiket Symphonesia pada tahun 2009 sudah sold out bahkan sebelum hari H-nya.

Kedua adalah BEM FISIP UNPAD, berbeda dengan HIMA HI yang cenderung homogen, maka BEM FISIP sangat heterogen. Hampir semua mahasiswa jurusan yang ada di FISIP tergabung didalamnya. Pada tahun 2008 saya mendaftarkan diri di Departemen Kajian Sosial Politik (pada perkembangannya nama tersebut sering berubah-ubah meskipun subtansinya tetap fokus pada kajian). Kadepnya adalah Kang Reza Wahyu Anzaya, pertama kali ketemu dengan Kang Reza sangat identik dengan Aher- Ahamad Heryawan, Gubernur Jawa Barat. Hal tersebut bisa dilihat dari kontur muka yang tipikal. Mungkin perbedannya terletak pada rambut Kang Reza yang lebih klimis karena efek minyak rambut.

Bagi Kang Reza, menjalankan KSP tidak hanya sebagai menjalankan program kerja atau dalam bahasanya hanya sebagai event organizer. Dalam visinya, anggota KSP harus memiliki karakter, maka tidak heran jika selama dalam asuhannya kami (Arief Adit, Z, Dadan, Solpa, dan Widy) baik langsung ataupun tidak langsung dikader oleh beliau.Di luar kadep, Kang Reza pun aktif sebagai kader HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Kondisi di BEM hampir terbalik dengan kondisi saya di HIMA HI. Jika di HIMA HI saya gabut, maka di BEM saya benar-benar sibuk. Banyak program yang dicanangkan, tapi itu buka sebagai retorika tapi juga program yang nyata. Setiap minggu dan setiap kami memiliki acara yang disebut kajian mingguan dan kajian bulanan. Memang tanggungjawab utamanya bukan saya, tapi Widy. Namun, mau tidak mau saya pasti terlibat dalam kepanitiannya. Selain itu, setiap minggu Kang Reza juga menanyakan progres persiapan yang dipegang oleh setiap anggota. Kebetulan pada saat itu saya pegang acara Debat Logika Se-FISIP UNPAD.

Diantara semua departemen yang ada di FISIP UNPAD, hanya KSP dibawah pimpinan Kang Reza yang benar-benar hidup. Bahkan saking hidupnya, semua anggota KSP dekat dengan Kang Maul (Ketua BEM). Hingga suatu ketika, di akhir kepengurusan, diselenggarakanlah libur bersama semua Anggota BEM dan pada saat itu memang jadwalnya tidak sinkron, hampir semua anggota KSP tidak ikut. Hal tersebut mengundang komentar dari Kang Maul "Saya tidak ridho kalau kalian tidak ikut, kalian yang paling banyak kerja tapi kalian yang tidak ikut liburan". Tapi keputusan kami sudah final karena memang ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan.

Selain BEM dan HIMA HI, sebenarnnya banyak kepanitiaan yang saya ikuti. Pada dasarnya masih dibawah kegiatan kedua organisasi itu juga. Hal tersebut terjadi karena, saya dan teman-teman menjalin hubungan yang baik dengan sesama anggota organisasi. Al-hasil sering sering terjadi 'tarik-menarik' kepanitiaan. Sebut saja, Cinta Oma 1 & 2 (Acara Depsos HI), HI Goes to School (acara Penjar HI), dll.

Di luar itu juga saya terlibat dalam kegiatan PPKMB (Program Pengembangan Kreativitas Mahasiswa Baru), sebuah nama pengganti OSPEK. Saya memilih divisi Medik/IRMA (International Relations Medical Team). Selama dua tahun hampir setiap minggu saya berlatih dengan anggota lainnya. Pada tahun pertama (2008) sebagai anggota, tahun kedua (2009) sebagai koordinator. Di tahun kedua, kegiatan sangat padat. Setiap minggu Pak Ketua Panitia - Mufli, selalu meminta rakor (rapat koordinator) guna membahas progres persiapan. Pernah suatu waktu, saya berbincang dengan Riri, Riki, Fahmi dan Solpa dalam acara makan santai, "mending kita buka EO aja yuk, kagok edan racing team (cadaan anak muda pada saat itu) ini".

Celetukan tersebut bukan hana sebuah candaan, tapi juga memiliki dasar pengalaman mengingat selama dua tahun itu fokus utama kami memang membuat kegiatan. Padat memang, tapi kami mampu memenej waktu dan tenaga seefisien mungkin.

Selama dua tahun itu saya bertanya, "apa sih yang saya dapat?". Setiap minggu pasti ada rapat, pulang malam, lelah badan, dan ada waktu bermain yang banyak dikorbankan. Tapi ada manfaat yang rasakan secara tidak langsung, yakni meningkatnya kemampuan menejerial. Sering berpikir berpikir bahwa kerja yang terbaik adalah berada di top management. Pandangan tadi tidak sepenuhnya benar, tapi tidak sepenuhnya salah juga.

Berada pada posisi atas memberikan pemegang amanah tunjangan yang besar dan status sosial yang lebih tinggi, namun kerja adalah performa. Posisi di atas tidak menjamin performa menjadi bagus, itu tergantung dari kemampuannya individu. Kerja adalah menjalankan peran secara optimal dalam organisasi, ntah bertanggungjawab atas keseluruhan acara, kesekertariatan, konsumsi, logistik, atau hubungan masyarakat. Itu harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Drama, Konfli, dan Politik (2009 - 2010)

Bimbingan: Langkah Awal Menjadi Intelektual (2011 - 2012)


Dari kiri ke kanan : Bima, Aki, dan Aros.




Menghadiri Makrab Angkatan 2011.
Dari kiri ke kanan: Nizar, Aros, Robi, Iya, Z, Ami, Hilda, dan Aki.





Noted: foto lain dan deskripsinya akan segera menyusul.

0 komentar:

Post a Comment