Friday, June 8, 2018

Caffee

Dia duduk di kursi bar kopi shop itu sendiri. 

Terlihat jelas dari kejauhan sosoknya. 


Dia. Cantik. Memakai pashmina terang. Bertubuh proporsional. Terkesan rohis, namun tidak bisa menyembunyikan aura modis.


Bar itu tidak terlalu tinggi sebagaimana bar-bar yang ada. 


Lagi pula itu adalah bar untuk caffee. Bukan tempat hiburan malam. 


Kursinya mudah untuk dijangkau. Sekitar 80cm dari permukaan lantai hingga bantalannya. Bar-nya pun tidak terlalu menjulang terlalu tinggi. Jika ditaksir kira2 ada 120cm. Terkapar juga beberapa lembar menu makanan dan minum di atasnya. Tak lupa ada mug tip untuk pelayan yang bertuliskan "modal kawin".


Di bar itu terdapat dua kursi. Satu di isi oleh perempuan itu. Menyisakan sisanya sebagai wilayah tak bertuan. 


Ada hasrat yang mendorong diri ini berkenalannya dia. Si cantik jelita itu.


Suka ? ntahlah. Aku pun tak begitu yakin apakah aku memang suka. 


Toh dia baru hari itu aku temui. Bagaimana bisa aku bisa menyukai seseorang jika tidak tahu baik-buruknya.


Cinta ? apalagi itu. Dia adalah kata yang penafsirannya tak terhingga. Tidak bisa hanya dibingkai dalam hubungan antar dua jenis kelamin berbeda. Atau dibatasi dalam kisah romansa. Bahkan, hingga detik ini para filsuf, pujangga, dan khayalak masih memperdebatkannya. Dia pun tak bisa dilihat hanya sebagai aktivitas persenggamaan, meskipun itu adalah salah satu turunannya.


Ah. Mari kita melewati bagian tadi. Yang membosankan. Yang fokus akan diri dan pemikiran-pemikiran tak terarah. Lagi pula cinta terlalu absurd untuk dibicarakan.


Mungkin padanan yang tepat adalah tertarik. Aku tertarik pada dia. Seperti dua kutub yang saling berlawanan. Dia menarik atensiku. Dia menarik pandanganku. Dia menarik jiwaku. Mendorong diriku untuk selalu memandangnya.


Jelita. Bersinar. Cantik. Soleh. Cerdas. Itu adalah kesanku tetang dia. 


Tapi hanya cukup menikmati kesan saja ? 


Kesan bisa menjadi angan. 


Dia adalah fantasi liar awal tentang seseorang. Bisa jadi benar. Tak menutup kemungkinan untuk salah. 


Itu adalah lumrah. Sebagaimana khalayak yang keliru menafsirkan kesan tentang politisi dan selebriti. 


Mereka itu berkesan demikian karena tuntutan. Lingkungan dan panggung mereka mengharuskan begitu. 


Semua tindakan mereka adalah bentuk setia atau terpaksa terhadap peran sosial. Bisa juga diri yang hadir dalam tubuh mereka menjadi peran dan menjadi inti. begitu juga dapat terjadi sebaliknya - vice versa.


Lantas bagaimana aku harus bersikap terhadap perempuan yang duduk di kursi bar itu. 


Haruskah kuamini kesannya ? Jika ia. Maka aku tidak berlaku adil. 


Lah ? Adil untuk siapa ? 


Untukku ? 


Atau penilaian kesannya dariku ? 


Aduh. Kok jadi rumet. Kenapa pula aku harus memikirkan itu semua ? 


lagi pula adil itu seperti ? 


Banyak yg berbicara tentang adil tapi tidak sedikit yang tidak tahu barang itu. 


Memangnya aku tahu ? 


Aku harus jujur. Setahuku barang itu hanya muncul di pengadilan dan hakim membuat keputusan. 


Di persidang itu hakim membuka perkara dan berusaha menjelaskan posisi jelas dari perkara tersebut. 


Lalu, jika dirasa sudah terang benderang dia memberi penghakiman. 


Ok. Mari balik lagi ke masalah yg kupikirkan dari tadi. 


Bisakah aku adil kepada dia ? yah. dia. 


Perempuan yang berperkara dalam pikiranku. 


Mengusik ketenangan batinku. 


Menggiring jiwaku kepada dirinya dengan daya tarik yang dia miliki. 


Kuyakin dia tak bermaksud untuk berbuat demikian. 


Tapi bisa juga aku salah, ada peluang dia berbuat demikian dalam pikiran atau dalam rasa malu yang dia sembunyikan.


Jujur. Boleh aku jujur ? Tentu boleh. harus malah. Apalagi jika jujur terhadap diri sendiri. Wajib hukumnya. Klo untuk orang lain mungkin bisa sedikit walau berdosa. 


Ia. Itu dusta. Walau sedikit tetap saja berdosa. Ah. Sudahlah. Jujur saja.


Klo memungkinkan aku ingin melewati luapan pikiran-pikiran di atas. Langsung pada kesimpulan. 


Lah ? Apa yang disimpulkan ? Mungkin hrsnya pada suatu tindakan. Tapi apa daya. Pikiranku ini memang liar. Tak terkekang oleh keterbatasan rangkaian Aksara. Dia terus berspekulasi kemana-kemari. Mencari jawaban atas pertanyaan. Mencari kejelasan atas ketidaktahuan. 


Hasrat akan sebab-akibat ini hrs terpenuhi.


Dia. Perempuan yang berperkara dengaku ini harus diadili. Asumsiku tentang harus dibuktikan. Dengan kebenaran ataupun kekeliruannya. Tak ada jalan lain selain menyelami kepribadiannya. 


Dia, si jelita yang ada di bar itu.


aku pun mengumpulkan keberanian.


Harus duduk di sebelahnya. Harus berkenalan dengannya. Harus mengetahui kepribadiannya. Harus berlaku adil terhadapnya. 


Itu adalah niat-niat yang kutanamkan.


Kemudian, kaki ini beranjak dari tempat duduk. 


Perlahan bergerak. langkah demi langkah terasa berat. Seakan dunia berada dalam mode lambat. 


Jantung pun tak ingin melepas kesempatan ini. Dia berdetak tak seperti biasa. Kencang. Melebihi tempo biasanya. 


Ya Tuhan. Perasaan apa ini ? 


Sungguh menyiksa. 


Tapi aku ingin tahu. 


Penasaranku tak bisa terbendung. 


Harus disalurkan.


Lalu kaki ini berhenti tepat di sebelah kursi bar itu. 


Kemudian bibir meluncurkan kata. 


"sorry, kursi ini kosong ? boleh duduk di sini ?".



----------


Dago.

6 Juni 2018.

(ariefrosadi.com/aros)

0 komentar:

Post a Comment