Monday, November 26, 2018

Cerita Lari

Tidak pernah sedikit pun saya membayangkan untuk menekuni hobi lari. Anggapan tersebut punya dasar pengalamannya sendiri.

---

Sedikit kilas balik ke masa kecil.

Di bangku SD, saya membenci olahraga lari. Alasannya sederhana, saya selalu kalah berlari dengan teman saya. Selain itu, cibiran dari teman, orang tua, dan saudara yang tidak jarang mengatakan, “ah lemah” semakin menguatkan ketidaksukaan saya dengan aktivitas berlari. Hal tersebut menyebabkan olahraga lari sebagai aktivitas yang selalu saya hindari.

Jika pun berandai-andai, saya lebih suka membayangkan menjadi pemain bulu tangkis. Di bangku SMP saya sempat mengikuti ekstrakulikuler bulu tangkis dan mengikuti pelatihan di Gor Sangkuriang – tempat Taufik Hidayat dulu berlatih. Namun, kesuksaan saya terhadap bulu tangkis tidak lama. Memasuki SMA saya pasif dalam beraktivitas fisik. Sedikit berubah di bangku kuliah yang masih ditambal dengan kegiatan futsal angkatan. Tapi tetap, saya belum menyukai olahraga lari.
Ketertarikan saya terhadap olahraga lari di mulai pada tahun 2016an. Pada saat itu mulai booming event di lari di kota kembang tercinta ini. Dalam pikiran, “seperti asik nih kalua lari bareng2”, “lagipula medal yang disediain panitianya juga bagus2x. jadi ingin”.  Lalu, ikutlah saya dalam salah even lari masa tersebut.

---

Event pertama yang saya ikuti diselenggarakan oleh PT KAI Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2016. Di acara itu saya bertemu dengan Fajar (teman SMP) dan Seny (teman kuliah) yang ternyata hobi lari juga. Jaraknya yang harus di tempuh tidak terlalu jauh sebenarnnya – cuman 5K. Namun karena kondisi tubuh saya pada saat itu belum sebugar sekarang, jarak 5K rasanya seperti neraka, tapi saya tetap bisa menyelesaikan perlombaan (finish). Sayangnya, medali finisher yang sediakan panitia hanya 100 buah dan tentu saya tidak masuk di dalamnya.

Setelah itu, saya pun belang-betong (bolong-bolong/tidak konsisten) mengikuti event lari.  Jarak 5K masih terasa berat.

Kemudian di awal tahun 2018, ketemulah saya dengan Pradip yang baru menyelesaikan working holiday dari Australia. Kita pun berbincang dan ditemukanlah permasaan bahwa kita sama-sama menyukai olahraga lari. Kemudian kita pun saling berbagi pandangan dan pengalaman. Perbedaannya, Pradip konsisten dalam berlari sedangkan saya cuman per event saja.

Saya pun menceritakan rencana saya mengikuti Pocari Sweat Bandung Marathon 2018 dengan jarak 10K dan Borobudur Marathon 2018 dengan jarak 21K (HM). Lalu diajaklah saya gabung dengan komunitas RIOT (Running is Our Theraphy) Chapter Bandung.

Ada beberapa pertimbangan kenapa saya memutuskan untuk bergabung dengan komunitas lari. Pertama, sebagai support system – ini menjadi penting karena fluktuasi motivasi saya yang berlari berada di tingkat inkonsistensi yang tinggi. Kedua terkait hal pengalaman, saya menyadari bahwa saaya adalah pelari semula dan memerlukan ilmu yang benar dari mereka yang sudah mengetahui serta melakukannya.

Pertama kali saya bergabung dengan RIOT Bandung sekitar 1 bulan sebelum PSBM. Saya mendapatkan penerimaan yang hangat dari teman-teman RIOT Bandung. Di Bandung sendiri pada dasarnya memiliki tiga agenda  per minggunya; hari rabu (kemudian diubah menjadi hari selasa) jadwal Strenght and Conditioning, hari kamis fun/night run, sengkan hari sabtu atau minggu long run. Awal-awalnya terasa berat, apalagi waktu mengikuti program strength and conditioning yang dipimpin oleh coach Doni di Gor Padjadjaran. Di luar itu semua, saya percaya bahwa tidak ada latihan yang ringan dan berpikir “lebih baik habis di latihan, daripada payah di perlombaan”. Manfaatnya, tubuh saya menjadi lebih bugar dan sehat.

Di RIOT Bandung, bukan saja kebugaraan yang saya dapat namun juga pertemenan sehat. Meskipun komunitas lari, RIOT Bandung mengajarkan arti keluarga, kerjasama tim, dan perjuangan.

Mind set saya pun berubah terhadap olahraga lari. Dulu saya berpikir pesimis ketika akan menghadapi jarak 10K atau 21K. “Gila, ada yh orang mau lari dengan jarak sejauh itu”, pikir saya saat itu. Ketika sudah dijalani, 10K atau 21K adalah jarak yang mungkin ditaklukan oleh manusia. Memang perlu persiapan yang matang juga untuk menjalani itu. Tidak cukup modal nekat dan tekad.

RIOT Bandung Team For Borthon 2018


Di komunitas RIOT Bandung juga saya menemukan kesalahan masyarakat dalam memandang olahraga lari. Mayoritas masyarakat kita berpersepsi bahwa lari itu harus cepat – itu adalah keliru. Lari memiliki beberapa variannya, seperti sprint atau distance-running. Nah, kebanyakan dari masyarakat cenderung mengasosiasikan dengan yang pertama (penggunaan 80% tenaga), padahal kenyataanya tidak seperti itu. Saya baru mengatahui bahwa lari itu harus membuat kita nyaman. Kita memiliki pace yang berbeda satu sama lain. Maka berlarilah dengan pace kita masing-masing. Jika ingin meningkatkan kemampuan maka berlatihlah.  Intinya lari adalah tentang diri sendiri. Jangan bandingkan dengan orang lain, apalagi jika kamu pelari rekreasi.

Saya banyak berhutang terima kasih kepada teman2 RIOT Bandung, utamanya adalah Pradip (sebagai orang yang bertanggung jawab membawa saya ke RIOT), Capt Kinno, Moms Melisa, Babang Rony, Om Iki, dan para officers. Tanpa mereka saya tidak mungkin menekuni olahraga ini dan berusaha menembus batasan diri. Saat ini saya sedang mempersiapkan untuk mengikuti Maybank Bali Marathon 2018 dalam kategori 42KM (Full Marathon). Mohon doanya yh. Salam. 

Aros di Borthon 2018


(ars/ariefrosadi.com)

0 komentar:

Post a Comment