Saturday, April 27, 2019

Jakarta dalam 3 Bulan

Tidak terasa jika aku telah menghabiskan masa hidupku selama 3 bulan di Jakarta. Tentu bukan untuk bermain-main atau berkreasi, namun mengadu nasib.

Tuhan ternyata menuntunku ke Jakarta, pusat berkumpulnya kuasa dan harta.

Memang aku selalu membayangkan untuk berkarir di Jakarta. Kupikir Ibu Kota adalah tempat pas untuk menempaku menjadi pribadi yang kuat dan tangguh sebagaimana pelaut yang terlatih menghadapi badai besar. Namun aku tidak berpikir bahwa jalanku untuk ke Jakarta melalui bidang yang tidak benar-benar aku geluti, yakni isu lingkungan.

Ketika kuliah aku aktif dalam organisasi kampus, juga terlibat dalam diskusi-diskusi akademik yang diselenggarakan HIMA atau Kampus. Berbagai bidang aku geluti, katakanlah Hak Asasi Manusia, Politik, Gender, Hubungan Sipil-Militer, Budaya, Antropologi, dan Sosiologis. Di luar bidang itu aku anggap tidak menarik dan lingkungan adalah salah satunya.

Pada saat itu aku memiliki perspepsi  bahwa lingkungan erat dengan aspek teknis, makanya aku tidak terlalu tertarik karena ingin menghindari berbagai rumus matematika. Selain itu banyak sekali bahasa-bahasa teknis lainnya yang aku tidak ketahui. Singkatnya aku tidak mendalami isu lingkungan, hanya sebatas tahu dari teman-temanku yang bergiat di sana.

Mungkin benar kata pepatah dahulu, "kita tidak terlalu membenci atau menyukai suatu hal, karena bisa jadi keduanya itu berbeda tipis" dan ketidaktertarikan aku terhadap isu lingkungan mendekatkan aku dengannya. Ntah bagaimana cerita rumitnya, Tuhan mendekatkan aku dengannya.

Pada bulan pertama aku masih merasa memiliki energi tak terbatas. Ini bukan karena bintangku Aries, namun juga ada antusias yang berlipat ganda dalam jiwa ini. Aku akan mendalami bidang yang relatif baru, itu yang selalu bergaung dalam pikiranku.

Selama bulan pertama, aku menikmati hal-hal yang baru. Lingkungan baru. Teman kerja baru. Tanggung jawab baru. Semua kuanggap sebagai titik awal lembaran perjalanan baruku. Pada bulan pertama ini juga aku beradaptasi dengan lingkungan baru, termasukan tempat tinggal beserta makanan yang ada di sekitarnya.

Pada bulan kedua, aku sudah bisa beradaptasi dengan kotanya. Mengetahui dimana aku harus menjelajah meskipun masih juga ada labirin-labirin kota yang belum ku terjamah. Memahami kulturnya. Mengetahui pola aktivitasnya. Juga mampu mengembangkan hubungan dengan orang-orang di dalamnya. Yah, Jakarta adalah Aku dan Aku adalah Jakarta.

Pada bulan ketiga, aku bisa mengatakan bulan maduku telah berakhir. Tantangan demi tantangan muncul. Masalah demi masalah hadir ntah urusan profesional atau personal, dengan tingkat kerumitan yang berbeda satu sama lain. Aku harus akui tidak selamanya aku bisa menangani tadi dengan baik. Ada yang hasilnya fatal. Aku selalu membayangkan mampu memutarbalikan waktu, kembali ke masa itu. Namun, nasi sudah menjadi bubur dan hal terbaik menyikapinya adalah menerima semua itu sesuai apa adanya serta mau belajar darinya. Sehingga aku mampu pribadi matang dan bijak.

Yah, bulan ketiga ini seperti 10 menit pertama film laga dimana jagoan dihadapkan pada kerumitan dan hanya dua pilihan dalam konteks ini Go Home or Go Great.

---
arostorat

0 komentar:

Post a Comment