Thursday, April 11, 2019

Obrolan Sekilas Tentang Pernikahan

Ada pelajaran penting yang aku peroleh hari ini, yakni tentang pernikahan atau lebih tepatnya pokok utama ketika akan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Itu aku peroleh dari atasanku.

Pada cerita kali ini, beliau tidak langsung menujukan pokok pikirannya kepadaku. Namun pada rekan kerjaku, sebut saja Kiki yang secara kebetulan duduk kami berselahan. Jadi mau tak mau aku pasti mendengar pembicaraan apapun di sekitar kami.

Titik mula berawal dari obrolan rekan-rekan kerja yang membahas lokasi strategis untuk dijadikan tempat tinggal jika mencari kerja di Jakarta. Opsinya sebenarnnya bisa beragam - idealnya memiliki rumah di Jakarta, namun karena harga properti semakin meningkat dan anggaran menjadi pertimbangan maka Kiki pun berencana membeli rumah disekitaran wilayah penyangga Jakarta. Belum ditentukan dimana tempatnya. Masih sebatas rencana.

Pada saat obrolan tadi. Atasanku lewat dan mendengar obrolan kami.

Lalu beliau ngobrol bersama Kiki.

Hal yang beliau sampaikan kepada Kiki adalah "cari dulu pasangannya baru rumahnya". Lebih lanjut beliau mengatakan "nanti rumahnya bisa dicicil secara bersama". Kurang lebih seperti, aku lupa lagi detailnya bagaimana.

Perihal pernikahan, diusahakan kita berpikir sederhana. Hal penting adalah ada calon mempelainya. Tidak perlu mengunggu kita mapan terlebih dahulu, karena yang kurang bisa dicukupkan, yang lebih pun bisa dicukupkan.

Beliau mewanti-wanti perihal pasangan - "utamanya adalah Ibu yang terbaik bagi anakmu". Itu saja.

Beliau tahu aku mendengar seksama. Karena aku adai di sebelah Kiki dan utamanya Aku termasuk lajang di lingkungan kerja itu.

Aku pribadi bisa memahami pemikiran beliau.

30 tahun bukanlah waktu sedikit untuk memahami kehidupan. Namun cukup untuk menjadi bijak.

Setidaknya dari pengamatanku.

Tidak sedikit kondisi romansa zaman modern ini cukup berbelit.

Kukira apa yang disampaikan oleh beliau benar. Sejatinya kita harus berpikir sederhana dan bertindak sederhana. Jika sudah niat menikah dan ada calonnya maka menikahlah. Tak perlu dibuat rumit. Tak perlu menunggu harus ini - ini.

Aku jadi teringat Pramoedya "Hidup itu sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirnya".


---
arostokrat

0 komentar:

Post a Comment